Wednesday, December 16, 2015

Emotional Eating



Malem-malem pas lagi di ojek dalam perjalanan pulang ke rumah, saya baru menyadari sesuatu. Kok belakangan saya makannya kayak ga kekontrol ya. Apa yang ada di depan mata langsung disikat habis tanpa mempedulikan bahwa perut saya udah begah kekenyangan. 

Kayak hari ini aja saya udah menghabiskan:
- segelas smoothies (kacang panjang, tomat, wortel, buah naga, lemon)
- dua buah pisang goreng
- semangkuk bubur ayam
- tiga buah kue talam ubi
- satu buah lontong isi daging ayam
- setengah mangkuk kwetiau pangsit
- tiga buah ceker dari sop cekernya Mbak Petty
- segelas jus mangga
- cilok
- pisang cokelat keju
- nasi + caisim + sapi lada hitam + ayam goreng tepung
- segelas es kopi cincau

Ebuset banyak banget! Abis macul, Gon?



Kayaknya emang saya sedang mengalami yang namanya Emotional Eating. Keinginan untuk makan berlebihan akibat emosi yang ga stabil, entah lagi marah, sedih, patah hati, stres, panik, dsbnya. Emotional eating juga bisa disebabkan karena rasa bosan terhadap rutinitas.



Iya sih, kalo dipikir-pikir sejak dulu saya selalu lari ke makanan setiap kali lagi stres atau lagi sedih. Saya percaya bahwa es krim, cokelat, sushi, pasta, roti, dll bisa membuat saya kembali bahagia. Karena kamu tidak bisa menggantungkan kebahagiaanmu pada orang lain, misalnya pacar, orang tua, sahabat, rekan kerja, dsbnya. Orang-orang tersebut kadang bisa melukai perasaanmu dan membuatmu tidak bahagia. Maka hanya cokelat, es krim, dkk lah yang bisa mengerti kamu seutuhnya *aduh ini sesat banget, jangan ditiru*


Makanan-makanan itu memang tidak bisa melukai perasaan saya, tapi mereka bisa melukai... TIMBANGAN SAYA!!!
Sebagai perbandingan nih ya, silakan dilihat foto di bawah ini





bersama Mbak Boss kesayangan pas awal-awal masuk kerja (pertengahan 2013)


perut - pipi - lengan yang bikin gemes. foto diambil tanggal 6 Desember 2015



Saya mau berusaha untuk ga peduli sama komentar orang-orang yang bilang: "Kok makin subur aja Gon?" atau "Ih, makan melulu. Nanti tambah gendut, lho!" atau "Jangan gendut-gendut. Nanti ga punya pacar". Saya mau mencintai tubuh saya apa adanya. Saya mau mensyukuri anugerah dari Tuhan. Yang penting sehat dan bahagia, ga perlu langsing. 



Tapi ternyata itu sulit, sodara-sodara. Saya masih belum sepenuhnya bisa menerima keadaan tubuh saya. Akhir-akhir ini saya sering menolak ajakan untuk ketemuan dari teman-teman. Ya kecuali temen kantor dan temen komunitas maGis. Temen kantor karena terpaksa ketemu setiap hari kerja. Dan temen komunitas maGis hampir ga pernah komentar tentang bentuk badan saya *kecuali beberapa orang yang membuat saya memicingkan mata dengan sinis kalo udah mulai becandaan bentuk badan*. Ahahahaha. Ya mungkin talenta saya yang banyak berhasil menutupi kelebihan berat badan yang saya alami #tsaaahhh.

Tapi saya ternyata masih belum siap kalau ketemu teman lain di luar dua kelompok itu, apalagi teman yang udah lama banget ga ketemu. Pasti mereka akan berkomentar: "kok sekarang gendutan sih Gon?" Iyah, kelamaan berendem di minyak tanah, jadi melar. YAKALI GUE JAWAB BEGITUUUU.... Biasanya saya menatap nanar orang tersebut selama beberapa detik baru kemudian tersenyum: i'm not fat, i'm just full of love. Sok-sokan sambil senyum padahal dalemnya berdarah-darah. Lalu sedih. Lalu makan lagi biar ga sedih. Lalu timbangan naik. Lalu dikomentarin makin gendut. Lalu makin sedih lagi. Lalu makan lagi. Lalu timbangan naik lagi. Gitu aja terus. Macem lingkaran setan ga putus-putus.



Bukti lain kalo saya masih belum bisa terima kenyataan bentuk tubuh saya adalah setiap kali akan difoto, pasti saya request: "Jangan sampe gue keliatan gendut ya". Lhaaa gimana caranya. Permintaan saya bikin yang motret jadi depresi dan terbebani. Kalo sampe keliatan gendut dan saya ga puas sama hasilnya, nanti dia yang disalahin, nanti saya minta ulang sampe puluhan kali, nanti mendadak saya banting kameranya.



Berhubung masalah ini bukan cuma jadi masalah saya aja, tetapi sekaligus membahayakan orang-orang di sekitar, maka sepertinya saya harus mulai memikirkan cara menghentikan kondisi emotional eating. Beberapa langkah yang mungkin bisa dilakukan adalah:
1. Cari tahu penyebab saya makan membabi buta.
Kayaknya sih saya bosen sama rutinitas dan sekaligus stres sama kerjaan. Maka cara paling sip adalah cari kerjaan baru *brb buka jobstreet*

2. Mulailah menjalani makan berkesadaran.
Jangan kalap liat makanan dan buru-buru pingin ngabisin semuanya. Pastikan dulu bahwa saya makan karena perut bener-bener laper. Bukan matanya yang laper. Apalagi kalau makan karena baper. 

3. Kurangi kontak mata langsung dengan makanan.
Percayalah, beberapa makanan memiliki kemampuan menghipnotis. Makan aku, makan aku, aku rasanya enak, nyesel loh kalo kamu ga makan. Jadi, saya harus segera mengalihkan pandangan saat melihat ada makanan di dekat saya. Kontak mata lebih dari 3 detik dengan makanan bisa membuat saya seperti diguna-guna dan dalam sekejap makanan sudah berpindah ke dalam perut.



Tentu saja semua cara itu ga akan berhasil tanpa dukungan dari orang-orang terdekat. Maka, kalau suatu saat kamu melihat saya makan membabi buta, please gampar saya dengan timbangan ya.

1 kicauan:

B. E. Widha Karina said...

aku juga makin ke sini makannya gila-gilaan.. :(

 

(c)2009 racauan si tukang cerita. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger