Monday, June 27, 2011

seperti masak mi instan, doa saya dijawab dengan cepat :)

Minggu 26 Juni 2011

Tuhan, malam ini aku berdoa secara khusus untuk temanteman maGis yang sedang bergulat membuat pilihan. Aku tahu harusnya aku tidak meminta agar mereka memilih untuk ikut. Aku tahu harusnya live in bukanlah tujuan akhir dari maGis melainkan hanya sarana untuk mengenalMu lebih dekat, mencintaiMu lebih dalam. Namun aku tidak dapat menutupi kesedihanku manakala mendengar kebimbangan temantemanku ketika memilih, dan juga kekecewaanku sebagai panitia yang telah mempersiapkan semuanya. Semoga roh kudusMu turun atas mereka. Semoga mereka bisa lepas bebas. Semoga mereka bisa menimbang dengan bijak. Semoga hanya kehendakMu sajalah yang benarbenar terlaksana. Amin

Malam itu setelah berdoa, saya tidak bisa memejamkan mata. Saya benarbenar kepikiran dengan mereka yang masih terus bimbang dan tidak dapat memutuskan. Saya mengirimkan sms kepada salah satu dari mereka. Namanya Meltari. Begini isi smsnya:

Aku tau pas tadi Moncil telpon kamu kan emang kami pas lagi rapat. Mel, inget yang diajarin di maGis tentang discernment. Kamu timbang sendiri, mana yang sarana, mana yang tujuan. Sekiranya itu memberatkan, ya silakan lepaskan. Lepas bebas, Mel. Masih ingat kan?
Kami menghargai keputusanmu. Dan kami menghargai karena kamu sudah berani bikin keputusan yang kamu rasa tepat untukmu. Daripada kamu ikut live in dalam kondisi nggak fokus. Inget juga bahwa bukan cuma badan kamu, kehadiranmu secara fisik yang dibutuhkan di tempat live in, tapi kami berharap kamu sungguh2 menyadari keberadaanmu di tempat live in nanti, di sana dan pada saat itu.
Dan kurasa kalo memang itu semua memberatkanmu, ya sudah ditinggalkan.
Maaf ya Mel kalo kesannya menggurui. Semangat, sayang

Ternyata sms tadi diforward kepada teman lain - Angel - yang kebetulan menghadapi kebimbangan yang sama. Mereka berdua berterima kasih dan mengatakan akan merenungi semuanya malam itu. Setidaknya saya bisa sedikit lega.



-------------------------------------------------------------------------------------------------



Senin, 27 Juli 2011
Jam makan siang

Moncil: emang sepertinya nggak mungkin ya kalo mereka mau ijin satu hari untuk ke kantor

Saya: iya ncil, kita harus tegas. Kalau mau ya ayo, kalo setengahsetengah ya mending nggak usah sama sekali. Aku sih udah bilang ke Meltari bahwa dia harus bisa menimbang mana yang tujuan, mana yang sarana. Live in kan cuma sarana ya Ncil.

Moncil: iya bener. tapi gimana ya, gue ngerasa sedih aja, kok kesannya gue menghalanghalangi orang yang niat mau live in. Kok kesannya gue mempersulit mereka. Padahal mereka udah niat banget mau live in, eh gue ga bolehin garagara ijin satu hari itu

Saya: tapi Ncil, kalo Meltari atau Angel ga ikut live in, mereka tetep anak maGis, mereka tetep temen gue. gue tetep sayang sama mereka. justru di situ letak maGis nya, ketika mereka bisa menantang diri mereka sendiri untuk membedakan mana yang sarana mana yang tujuan. Kan live in cuma sarana. Biar mereka bisa belajar lepas bebas juga. Kalo live in terasa memberatkan ya dilepaskan. Toh kita pengennya mereka kan fokus ketika live in. ga mikirin kerjaan atau halhal lain.

Moncil: iya cowok gue juga bilang gitu. yang namanya anak maGis ya ga bisa setengahsetengah, harus militan. kalo iya, ya yang total. kalo setengahsetangah mending ga usah sama sekali. kata cowok gue, kalo gue kasih excuse ke mereka, mending kita gausah pake nama maGis sekalian. tapi devosi kepada Santo Ignatius.

Saya: hahahaha, bener juga. dituntut jadi anak maGis yang militan. (hening, merenung)

Moncil: ..... (ikutan merenung)

Saya: ayo Ncil, semangat! udah H min 1. kita bawa mereka dalam doa ya.

Moncil: iya Gone, dari semalem aku juga doain mereka. Trims ya Gone udah coba bantu jelasin ke Meltari dan Angel.

Saya: samasama Ncil. maGis militan! hahahahahaha

Setelah pembicaraan itu, kami berpisah. Saya kembali ke tempat les, dan Moncil kembali ke kantor. Saya mencoba merenungi semua pembicaraan tadi. Menjadi maGis yang militan. Kok kesannya mengerikan ya? Tapi mungkin itu yang dicari. Saya berjalan gontai menuju gedung Sentra Mulia (tempat saya les) sambil terus berdoa dalam hati, mendoakan temanteman yang masih dalam kebimbangan. Berulangulang saya mengucapkan: biarlah hanya kehendakMu saja yang terlaksana ya Tuhan. Aku hanya bisa berserah.


Tepat ketika kaki saya melangkah memasuki gedung Sentra Mulia, sebuah pesan singkat masuk. Dari Angel.

Gue bisa ga masuk kerja Gon, tapi mesti ada alesannya. Gue mau bilang sakit dan mau kasih surat dokter. Ada yang bisa kasih solusi?

Sambil lompatlompat kegirangan, sms tadi saya teruskan ke Moncil. Saya ga berhenti tersenyum membacanya. Bahkan saya menulis di twitter: Moncil, kayaknya Tuhan Yesus suka masak indomie deh. Doa kita aja dijawabnya instan kayak masak mi yang 3 menit udah mateng.
Dan Moncil membalas: iya mungkin sinyal doa kita lagi kuat. Seneng banget deh Gone.


Perasaan lega menyeruak memenuhi rongga dada. Saya girang bukan main. Saya mengikuti sesi les hari itu sambil senyumsenyum. Malamnya setelah les, lagilagi Tuhan menjawab doa saya, doa Moncil, doa kami semua, dengan cara yang ajaib. Kali ini sms dari Meltari.

Aku ikut! Dapet freepass all access dari Papa Jesus lewat seniorku yang kasih kabar baik. Tapi 2 hari ini mesti berjibaku dengan segala kerjaan. Doain kelar semua ya. Thank you!


Dua kali! Dua kali doa saya dikabulkan Tuhan. Saya tidak bisa menutupi kegembiraan saya. Bahkan terselip perasaan haru yang mendalam. Airmata saya pun meluncur dengan sukses. Saya menangis di halte depan Pasar Festival yang tentu saja disaksikan oleh banyak orang. Hampir setengah jam saya duduk di halte sambil berlinangan airmata. Saya mensyukuri kebaikan Tuhan, mencecapcecap rasa bahagia, dan mengingat kembali semua peristiwa sejak rapat minggu siang hingga hari itu.



*tulisan ini dipersembahkan untuk temanteman maGis Jakarta 2011 yang sudah berani membuat keputusan :)

Friday, June 24, 2011

seperti teflon

baru kemarin saya bercerita pada salah seorang sahabat saya bahwa saya akan mengambil resiko dari keputusan yang saya buat. saya memutuskan untuk menyukai seseorang. keputusan ini membutuhkan komitmen. dan komitmen ini memiliki resiko.

"I'll take the risk," begitu yang saya katakan pada sesi curhat kemarin. Sahabat saya mendukung. Dan saya tersenyum puas.


Dan, hanya berselang satu hari sejak saya menetapkan hati untuk mengambil setiap resiko yang ada, ternyata hari ini si resiko muncul dengan sendirinya di depan muka saya. orang itu menyukai perempuan lain.


logikanya, saya akan sedih dan patah hati. tapi ternyata tidak. hari ini justru saya bisa tersenyum. saya sudah menyiapkan diri untuk setiap resiko, termasuk resiko patah hati. dan batin saya pun sudah disiapkan untuk hal ini.


saya bersyukur karena saya jatuh (cinta) pelanpelan. saya bersyukur telah mempelajari sikap lepas bebas sehingga untuk perasaan patah hati pun, saya bisa lepas bebas. saya juga bersyukur karena tidak butuh waktu terlalu lama hingga si resiko datang dengan sendirinya.


semoga saya bisa terus menjaga batin saya seperti teflon. tidak ada kelekatan dengan apapun. tidak ada yang menempel. semua lepas bebas :)

Sunday, June 19, 2011

jatuh pelanpelan

saya mencoba menikmati perasaan ini. sedikit sedikit muncul. bikin senyum senyum senang. ditambah degdegan. berawal dari kagum. atau malah dari perasaan terharu karena kebaikan hati. entahlah. saya sendiri masih sulit memilahmilah.


yang pasti saya ingin mensyukuri perasaan campur aduk ini. kalau nanti pada prosesnya perasaan ini jadinya hilang, saya tetap ingin merayakannya karena pernah memiliki perasaan ini. kalau nanti perasaan ini tumbuh kian besar hingga saya tak lagi sanggup menyimpannya sendirian, saya tetap ingin mensyukuri saatsaat si perasaan itu tumbuh sedikit demi sedikit.


selamat jatuh (cinta) pelanpelan, Gon!
:)

Wednesday, June 01, 2011

selalu miris kalo bagi rapot :(

Dua hari ini di Wonderful Planet ada pembagian Laporan Perkembangan. Semacam rapot. Orangtua murid diminta hadir sesuai jadwal. Masingmasing jamnya bedabeda. Biar ga perlu nunggu giliran terlalu lama. Apalagi jadwal pertemuannya di hari kerja.



Hampir semua orangtua sibuk bekerja, baik ayah maupun ibunya. Hanya beberapa yang ibu rumah tangga. Di selasela kesibukan, mereka masih menyempatkan diri untuk datang dan berbincang dengan guru tentang perkembangan anak mereka. Saya sangat menghargai itu. Sungguh.



Tapi ada beberapa orangtua yang begitu sibuknya dengan karir mereka sehingga tidak sempat hadir atau bahkan lupa bahwa mereka seharusnya datang ke sekolah.



Ada satu anak yang ibunya dokter spesialis dan bapaknya sedang kuliah lagi sambil bekerja. Hari itu seharusnya si anak libur dan hanya orangtuanya yang datang untuk pembagian Laporan Perkembangan. Namun ayah maupun ibunya tidak hadir. Si anak tetap datang ke sekolah dengan si bibik. Padahal surat pemberitahuan yang berisi jadwal pembagian Laporan Perkembangan sudah dibagikan. Sms untuk mengingatkan pun sudah dikirimkan. Akhirnya pihak sekolah menelepon orangtuanya. Si ayah akhirnya datang sambil meminta maaf karena datang terlambat dan tidak memakai baju yang rapi.


Buat saya, baju rapi ataupun kaos dengan sendal jepit bukan masalahnya. Datang terlambat pun masih bisa ditolerir. Tapi kalau surat pemberitahuan tidak dibaca, kalau sampai lupa bahwa hari itu jadwal bagi rapot, kalau sampai harus diingatkan oleh pihak sekolah, rasanya kok ga ada perhatiannya sama sekali. Saya jadi ingin menangis. Memangnya ga pengen ya mengetahui perkembangan anak sendiri? Saya saja sebagai guru begitu antusias melaporkan perkembangan anakanak mereka.



Cerita lain lagi, ada orangtua yang dijadwalkan untuk datang hari Selasa pagi. Sampai siang tidak ada kabar. Lagilagi pihak sekolah menelepon. Dan si ibu meminta diganti jadwalnya menjadi hari Rabu. Lalu sesuai jadwal, si ibu datang pada hari Rabu. Ternyata, si anak nantinya tidak akan melanjutkan di sekolah Wonderful Planet ini. Padahal si anak begitu bahagia bersekolah di sini. Meski rumahnya jauh dari sekolah, si anak begitu menikmati perjalanan menuju sekolah. Lalu kenapa harus pindah? Awalnya kami guruguru mengira si anak terlalu lelah dengan perjalanan jauh. Tapi si ibu bilang: wah karena harus nganter sekolah dulu, saya jadi telat terus masuk kerja.


Mengejar karier sih sahsah saja buat siapapun. Tapi bukan berarti anak jadi dinomersekiankan. Jangan cuma mau bikinnya aja, tapi abis itu nggak bertanggung jawab mengurusnya.



Kalau boleh rasanya pengen deh saya bawa pulang muridmurid saya yang ditelantarin sama orangtuanya. Sini buat saya aja, biar nanti saya urus, saya rawat, saya didik.
 

(c)2009 racauan si tukang cerita. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger