Wednesday, June 14, 2017

Gusti Allah Mahakeren

Saya bingung mau mulai bercerita dari mana. Rasanya masih sulit percaya. Rasanya masih kayak mimpi. Saya masih merinding dan perut saya bergejolak tiap kali baca email.



Siang ini di inbox gmail saya muncul sebuah email dengan subject: OFFERING LETTER. Mata saya terbelalak tak percaya. Akhirnya.... setelah berbulan-bulan jadi pengangguran, setelah merasa putus asa ga dapet-dapet kerjaan, setelah ngambil kerja serabutan (nulis artikel, nerjemahin, jadi fasilitator retret, dll dsb. PALUGADA alias apa lu minta, gue ada) dengan bayaran yang tersendat, setelah sering deg-degan hidup ke depannya bakal kayak gimana, email ini bagaikan segelas air putih dingin pake es batu di bulan puasa saat adzan maghrib berkumandang.


Desember 2016, sebelum saya berangkat retret, saya sempat mengirimkan lamaran ke sebuah perusahaan media. Waktu itu saya melamar sebagai penulis. Setelah retret selesai di bulan Januari, email lamaran saya berbalas:

"Terima kasih sudah tertarik melamar ke perusahaan kami. Sayang sekali posisi yang kamu lamar baru saja terisi. Namun, kami tertarik dengan CV kamu. Jika suatu saat nanti kami membuka lowongan Social Media Manager, kami akan menghubungi kamu. Apakah kamu bersedia dijadikan salah satu kandidat?"

Ah, sayang sekali. Posisi yang saya incar sudah terisi. Meski sedikit kecewa, saya katakan bahwa saya bersedia menjadi kandidat jika ada lowongan lain.


Setelah itu, entah sudah berapa banyak lamaran yang saya kirim ke berbagai tempat. Ada yang memanggil untuk interview, ada yang bahkan lanjut hingga job test, ada yang sudah sampai nego gaji, namun semua berujung pada hal yang sama: TIDAK ADA LANJUTANNYA.


Kalau kalian pernah baca tulisan saya empat bulan lalu, saya benar-benar merasa terpuruk ketika itu. Merasa tidak kompeten, tidak layak mendapat pekerjaan, Ditambah tuntutan dari keluarga untuk segera mencari pekerjaan baru. Saya putus asa.


Bahkan ketika pengakuan dosa saat masa praPaskah, saya sempat mengatakan kepada Romo Christiono Puspo bahwa saya meragukan Tuhan beneran ada bersama saya dan tak pernah meninggalkan saya. Sulit bagi saya untuk percaya ketika itu kalau Tuhan benar-benar mencintai saya. Meski berulang kali saya mengatakan pada diri saya sendiri (atau menuliskannya di blog atau menceritakannya pada sahabat saya) bahwa segala sesuatu akan indah pada waktuNya, tapi hati saya masih terus meragukan hal itu.


Beberapa yang mengikuti saya di media sosial mungkin melihat sepertinya kehidupan saya bahagia, jalan-jalan terus, makan-makan terus, posting My Monday is Better Than Yours, bahkan pergi dua minggu bersama-sama dengan seorang teman dari Romania ke beberapa kota di Indonesia. Saya pun rasanya masih sulit percaya saya bisa melakukan itu semua. Pergi jalan-jalan itu benar-benar rahmat tersendiri. Ya bayangin aja, lagi pengangguran tapi bisa jalan-jalan, kalau bukan karena kebaikan Tuhan, lalu dari mana lagi? Di tengah-tengah rasa putus asa dan meragukan Tuhan, ternyata justru saya mendapatkan banyak hadiah manis dariNya.



Senin minggu lalu sebuah email masuk. Panggilan interview. Saya coba mengingat-ingat lamaran pekerjaan terakhir yang saya kirim. Menyerah. Akhirnya saya googling nama perusahaannya. Dan ternyata ini adalah perusahaan media yang saya apply di Desember lalu. Selasa saya datang ke kantor untuk interview. Rabu mengerjakan job test. Kamis, HRD meminta scan KTP dan Paspor saya. Lalu, jreng jreng jreng datanglah offering letter hari ini.


Yang bikin saya nggak habis pikir adalah Gusti Allah emang Mahakeren. Desember saya melamar sebagai penulis. Tapi nggak dikasih. Malah saya disuruh jalan-jalan dulu bersama si teman Romania. Lalu sekarang, saya malah dikasih posisi yang lebih baik: jadi editor!!!


Saya baca emailnya berkali-kali. Saya tepuk-tepuk pipi saya. Beneran deh, otak manusia saya masih belum bisa memahami rencana Dia yang begitu besar. Seperti yang sahabat saya bilang: We need to learn to have a childlike trust in Him. Susah emang, tapi namanya juga belajar, wajar kalau masih suka salah-salah.

Sunday, February 19, 2017

Tambah Usia

Lewat beberapa jam dari tanggal 18 Februari, hari ulang tahun saya. Namun, ternyata masih menyisakan kehangatan dan kebahagian yang membuat saya tak kunjung memejamkan mata.


Saya selalu menyukai ulang tahun. Dari kecil, ulang tahun saya selalu dirayakan. Tiup lilin, potong kue, mengundang keluarga dan tetangga, dapat banyak hadiah. Saya selalu menanti-nanti datangnya tanggal 18 Februari. Bahkan sejak awal Februari, saya mulai senyum-senyum senang.


dapet 'kue' sushi dari sebuah restoran sushi ternama



Menunggu-nunggu ulang tahun bukan berarti saya ikhlas menerima pertambahan usia. Buat saya, hari lahir perlu dirayakan setiap tahun. Tapi kalau mulai ada yang membahas soal tambah usia, tambah tua, berkurang umurnya, saya langsung tutup kuping. Saya tidak ingin lagi bertambah usia sejak ulang tahun ke 23. Di tahun-tahun berikutnya, saya selalu mengatakan bahwa usia saya dua puluh tiga. Parahnya, saya jadi sering salah menulis di formulir pendaftaran. Saya refleks menorehkan angka 23 di kolom usia. Forever twenty three!


Galau-galau mengenai pertambahan usia ini makin terasa menakutkan ketika tahun lalu saya menginjak usia 29. Rasa-rasanya saya tidak siap untuk memasuki usia kepala 3. Saya sering mendengar cerita bahwa banyak perubahan-perubahan hidup terjadi ketika usia 30, baik itu soal pekerjaan, pilihan hidup, bahkan status seseorang. Ah, saya makin tidak siap menghadapinya.


Sepanjang tahun 2016 pun akhirnya diisi dengan bermacam-macam pertanyaan tentang hidup: apa sebenarnya tujuan hidup saya? Kalau saya terus menerus tidak bahagia dengan pekerjaan yang saya lakukan, sebenarnya pekerjaan apa yang sesuai? Kebahagiaan macam apa yang sebenarnya saya cari? Bagaimana bila ternyata pilihan hidup yang saya ambil selama ini salah?


Saya terus menerus membawa pertanyaan-pertanyaan itu. Galau tak berkesudahan. Bingung tanpa arah tujuan. Bertanya tapi tak kunjung dapat jawaban. Hingga suatu hari saya memberanikan diri menambahkan satu pertanyaan lagi. Kali ini pertanyaannya bukan melulu soal saya. Kali ini saya memberanikan diri bertanya: Tuhan, apa yang Engkau inginkan dari hidupku?


Njir! Serem yak. Abis nanya gitu saya langsung mewek. Takut. Nggak siap denger jawaban Tuhan. Terus mau diralat kok kayaknya nggak bisa. Tuhan udah terlanjur denger pertanyaan saya (mungkin abis itu Tuhan jawil-jawil dagu saya sambil bilang: bener nih mau denger jawabanKu? Yakin udah siap? Dan saya pun melambai-lambaikan tangan ke kamera).


Saya nggak mau kegalauan ini berlangsung terus menerus. Saya harus berbuat sesuatu, mengambil langkah konkret. Saya ingin denger Tuhan akan berbicara apa ke saya. Supaya bisa dengerin jawaban Tuhan, saya harus menyediakan waktu khusus denganNya. Maka, di penghujung tahun 2016, saya melakukan retret pribadi selama delapan hari. (Pengen cerita detail soal proses retret dan pengalaman yang saya dapatkan, tapi lain waktu aja ya. Mulai kriyep-kriyep ngantuk pas ngetik nih. Hahahahaha).


Intinya, ketika retret saya menyadari bahwa Tuhan sungguh mencintai saya sejak awal, bagaimana pun nakalnya saya, bagaimana pun parahnya luka yang saya punya, Tuhan tetap mencintai saya. Kalau kata salah seorang sahabat saya, Moncil, cinta Tuhan tuh luber-luber dan sering lupa takaran. Persis! Saya bahkan sering merasa bahwa saya tuh siapa sih, kok Tuhan bisa mencintai saya sampe segininya? Saya dikasih banyaaaaaaaakkkkk banget rahmat: kesehatan, orang tua dan keluarga, teman-teman, pekerjaan, rejeki, dan masih banyak lagi nggak keitung saking banyaknya.


Pasca retret, saya jadi lebih bisa menerima diri saya, menerima semua hal yang terjadi dalam hidup beserta pahit manisnya, galau-galaunya, bingung-bingungnya. Termasuk menerima bahwa saya akan segera masuk usia 30 hahahahahaha.


Terus, jawabanNya apa nih untuk pertanyaan: Tuhan apa yang Engkau inginkan dari hidupku? Weits, rahasia *senyum kalem*. Yang pasti Tuhan mau saya lebih banyak mensyukuri cinta dan rahmat yang sudah Dia berikan buat saya. Dan kemudian membagikan cinta dan rahmat tersebut kepada sebanyak mungkin orang di sekitar saya.


Hari ini (eh kemarin sih tepatnya, kan 18 Februarinya udah lewat beberapa jam), ketika saya ulang tahun, saya lagi-lagi merasakan limpahan cinta Tuhan yang luber-luber lewat keluarga dan teman-teman yang selalu menemani, mendukung, dan mendoakan saya *duh mulai mewek ngetiknya* *kelenjar airmata saya emang lemah*

diberkati Romo Mario, SJ. Meski penampakannya kayak anak SD baru pulang les, tapi beliau udah sah ngasih berkat lho!

Ketika tadi ada seorang teman bertanya: Kamu tahun ini minta didoain apa Nggun? Saya hanya tersenyum. Saya tidak tahu harus minta apa lagi ketika saya sudah diberi banyak cinta. Maka, kalau boleh, saya ingin meminta agar keluarga dan teman-teman saya bisa merasakan cinta Tuhan sebesar apa yang saya rasakan.


- Giasinta Angguni Pranandhita, yang sekarang dengan ikhlas bilang: umur saya tiga puluh tahun (meski muka masih kayak dua tiga #teteup #olesoleskrimantiaging)

foto diambil tanggal 18 Februari 2017, umur tiga puluh, muka dua tiga. Masih kinyis-kinyis kan?

Monday, February 06, 2017

Tepat pada WaktuNya

Hari ini perasaan saya nggak karuan. Antara senang (karena akhir pekan kemarin semua rencana bisa berjalan, bisa ketemu teman-teman yang udah lama nggak ketemu, dan bisa ketawa-ketawa bareng), lelah (sepanjang minggu kemarin saya mendedikasikan waktu saya untuk menemui anggota circle satu per satu dan mendengarkan semua cerita mereka, mungkin energi saya jadi habis terserap), dan ternyata yang paling dominan adalah rasa sedih.


Iya, sedih karena tak kunjung mendapat pekerjaan yang sesuai dengan hati saya. Kemarin ada tawaran pekerjaan, namun hati saya masih belum sreg. Terpaksa saya tolak. Hari ini rasa sedih mulai muncul lagi. Saya sedih kalau nggak bisa berbuat apa-apa ketika ibu bilang beras habis. Saya sedih ketika kemarin seorang teman membayari saya makan meski ia melakukannya dengan ikhlas karena tahu saya tidak punya uang. Saya sedih ketika sudah berminggu-minggu belum ada kabar dari sekian banyak lamaran pekerjaan yang saya kirim.




Kesedihan hari ini membuat saya sesak. Saya pun meniatkan diri untuk mampir ke Katedral sepulang kerja (FYI, saya sekarang jadi volunteer, membantu Romo Is di Sahabat Insan. Tidak terikat jam kerja, tidak terikat kontrak. Saya boleh terus membantu sampai saya mendapat pekerjaan).


Biasanya jam lima sore saya sudah bisa pulang. Misa harian dimulai pukul enam. Jalan kaki dari kantor ke Katedral sekitar 20 menit. Wah, pas nih.


Jam empat lewat, adik saya menawari saya untuk pulang bersama dengannya dan suami. "Jam setengah enam ketemu di kantor Didit ya Mbak." Wah, kok tawaran ini terasa lebih menarik. Saya jadi bisa menghemat ongkos pulang.


Ah tapi saya sudah meniatkan diri untuk misa dulu. "Duluan aja, Cha. Aku nanti pulang sendiri aja. Makasih ya." Saya balas pesannya dengan segera. Meski demikian, saya sempat khawatir bagaimana ya nanti caranya pulang ke rumah. Saldo Go-Pay saya sudah habis. Pun nggak mungkin naik taksi karena tight money policy. Sudahlah, pikirkan saja nanti, yang penting misa dulu.



Dua puluh menit berjalan kaki dari Pasar Baru menuju Katedral, saya hampir tidak bisa menahan airmata. Kesedihan ini begitu mengganggu. Saya mempercepat langkah. Ketika akhirnya tiba di Katedral, dengan tergesa-gesa saya masuk dan mencari tempat duduk. Secara random, saya memilih bangku sebelah kiri agak ke belakang.


Saya meletakkan tas, berlutut, dan menangis sejadi-jadinya. Sedih. Lelah. Takut. Bimbang. Semua hal yang mengganjal saya keluarkan tanpa malu-malu bersama airmata yang mengalir deras.


Misa dimulai. Bacaan hari ini tentang Allah yang menciptakan bumi dan segala isinya. Pikiran saya pun melayang mengingat saat-saat saya retret di Girisonta bulan lalu. Saya masih ingat bahan doa di hari kedua retret diambil dari kitab Kejadian tentang penciptaan. Ketika itu saya menyadari betapa Allah mencintai manusia karena Allah menciptakan dulu bumi dan segala isinya untuk manusia. Dan semua yang Allah ciptakan baik adanya. Saya ingat-ingat lagi bagaimana perasaan saya saat retret ketika membaca kisah penciptaan. Kedipan pertama dari Tuhan.


Lanjut ke bacaan Injil yang intinya supaya manusia jangan takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh tapi kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Manusia takutnya sama Tuhan aja, karena Dia dapat membunuh tubuh dan membuang jiwa ke neraka. Terus bagian lain dari Injil yang saya ingat adalah tidak seorang pun dilupakan oleh Allah, bahkan rambut kita pun terhitung semuanya. Karena itu jangan khawatir, karena kamu lebih berharga dari burung pipit. Kedipan kedua dari Tuhan.


Homilinya tentu saja nyambung dengan bacaan. Kebetulan hari ini dirayakan sebagai peringatan Santo Paulus Miki, dkk. Paulus Miki adalah martir Jesuit dari Jepang. Waktu itu penguasa Jepang memerintahkan semua misionaris yang berkarya di Jepang harus meninggalkan negeri itu. Kalau nggak nurut bakal dibunuh. Paulus Miki dianiaya dengan kejam kemudian disalib. Bahkan di saat-saat terakhir, Paulus Miki masih terus berkhotbah sambil tergantung di salib untuk membesarkan hati kawan-kawannya. Ck! Keren banget lah Santo Paulus Miki ini. Udah disiksa, disalib, masih sempet-sempetnya khotbah. Lah saya baru jadi pengangguran beberapa bulan aja udah mewek-mewek nggak karuan. Kedipan ketiga dari Tuhan.


Pas persembahan, lagunya ternyata Ambillah Tuhan. Liriknya begini:
Ambillah Tuhan, kemerdekaanku
dan kehendak, serta pikiranku
Trimalah Tuhan, yang ada padaku
Gunakanlah seturut hasratMu
Hanya rahmat dan kasih dariMu
yang kumohon menjadi hartaku

Dua baris terakhir adalah salah satu hal yang sering saya doain ketika retret kemarin. Rahmat dan kasih Tuhan, itu saja cukup bagiku. Padahal Tuhan sudah memberikan rahmatNya berlimpah ruah kepada saya. Lha terus kenapa sekarang jadi malah sedih dan khawatir sih? Kedipan keempat dari Tuhan.



Bisa dipastikan, saya nangis terus sepanjang misa. Saya sudah tidak peduli kalau orang-orang di sekitar saya melihat airmata saya.


Setelah misa selesai, saya masih belum bisa menenangkan diri. Airmata terus menerus mengalir. Tapi sedihnya sudah berkurang, karena saya sudah curhat sama Tuhan yang dijawab langsung olehNya. Saya mengelap airmata dengan tissue, kemudian melangkah ke pintu.


Tiba-tiba saya berpapasan dengan Yudi, teman SD yang sudah belasan tahun tidak bertemu. Kami bertukar kabar sejenak. Yudi bekerja di Kementrian Luar Negeri. Ia sering misa harian di Katedral. Namun, Jumat besok ia sudah harus berangkat tugas ke Argentina. Saya tidak terpikir untuk bertukar nomer kontak. Saya malu karena wajah saya sembab habis menangis, dan tidak berharap berpapasan dengan orang yang dikenal.


Di depan goa Maria, ternyata saya lagi-lagi bertemu dengan orang yang dikenal: Kak Arthur! Kakak idola yang satu ini menawari saya pulang bareng dengannya.



Ya ampun, Tuhan tuh beneran baik banget sama saya. Setelah memberi pesan tepat saat saya membutuhkannya, Dia juga mengirimkan tebengan yang tepat untuk saya pulang ke rumah. Hehehe. Semoga Tuhan juga akan memberikan pekerjaan untuk saya di saat yang tepat. Tepat pada waktuNya, bukan waktu saya.

Thursday, December 29, 2016

Bersabarlah, Gone!

Dua hari jelang keberangkatan saya untuk sebuah perjalanan menemukan kembali diri saya. Saya sebut begitu, karena sudah sejak lama saya merasa ada bagian-bagian yang hilang dari diri saya. Sudah sejak lama saya merasa bahwa ini bukan Gone yang sesungguhnya yang sedang menjalani kehidupan. Maka, saya membutuhkan waktu luang yang amat cukup agar saya punya kesempatan menemukan lagi diri saya yang entah tercecer di mana.


Dua hari jelang keberangkatan dan Ibu tiba-tiba membombardir saya dengan beragam pertanyaan:
Kamu jadi ke Semarang? Jadi
Berangkat kapan? Dua hari lagi, tapi aku ke Jogja dulu
Berapa lama kamu di sana? Sekitar 8 - 9 hari di Semarang
Lalu, setelah itu ke mana? Ya, kembali ke Jogja
Berapa biaya yang kamu butuhkan untuk 9 hari di Semarang? Kurang lebih xxx
Memangnya kamu punya uang? Ada
Nanti di Jogja berapa lama? Belum tahu. Sekalian mau datang ke acara teman tanggal 15 Januari
Pulang ke Jakarta kapan? Ya, tunggu setelah tanggal 15 Januari
Sudah beli tiket pulang? Belum
Terus kapan beli tiket pulang? Ya tunggu ada rejekinya lagi
Kamu di Jogja lama banget, biaya hidupnya gimana? Gampanglah, pasti nanti ada rejekinya
Tinggal di mana? Gampanglah, bisa di tempat Vic
Kamu nih ngerepotin Vic terus deh.
Ibu nggak bisa ngongkosin kamu, ga bisa ngirimin kamu uang kalau nanti kamu kehabisan uang.
Blablablablabla
Blablablabla
Blablabla
Blabla
Blah!


Saya bisa menangkap kekhawatiran dalam setiap pertanyaan Ibu. Ya, ibu mana sih yang tidak khawatir melihat anaknya akan pergi ke kota lain hanya dengan bekal yang amat sedikit, dengan uang tabungan yang kian menipis. Ibu mana yang tidak sedih melihat anaknya sekarang bekerja serabutan - menjadi penulis lepasan, terima proyek menulis apa pun, yang terkadang pembayarannya pun tersendat.


Sekuat tenaga, saya menahan airmata agar tidak jatuh di depan Ibu. Gengsi!


Di tengah perjuangan mencegah airmata saya menetes, saya teringat percakapan saya dengan Romo Mario beberapa hari yang lalu.
"Orang tuamu pasti memiliki banyak harapan padamu, meski hal itu tidak mereka katakan. Cara mereka mengungkapkannya mungkin dengan ngomel, dengan nyuruh-nyuruh kamu segera cari kerja, dengan menyodorkan berbagai macam iklan lowongan pekerjaan, dengan macam-macam. Tak jarang kamu merasa kesal dan terjadilah konflik dengan mereka. Maka, sekarang mulailah mendoakan orang tuamu, mohon rahmat dari Tuhan agar orang tuamu mau bersabar menghadapimu yang sedang dalam kondisi ini, dan tetap menerima apa pun keadaanmu saat ini."


Kondisi apa? Ya, kondisi jobless, jomblo, dan ngenes. Nyahahahaha. Kondisi yang membuat orang mungkin jadi kasian, yang membuat orang tua saya jadi gemas, yang membuat saya pun terkadang jadi sedih dan minder.


Tapi, highlight dari percakapan saya dengan romo tersebut adalah pada bagian ini:
"Lebih terutama lagi, kamu juga perlu mohon rahmat untukmu sendiri. Rahmat kesabaran untuk menerima dirimu, kesabaran untuk memahami bahwa saat ini kamu sedang di persimpangan."


AH! Ini yang ternyata saya lupakan. Rasa sedih dan minder tadi muncul karena ketidaksabaran saya dalam proses menemukan diri saya, karena ketidaksabaran saya saat berdiri di persimpangan, bawaannya ingin cepat-cepat memilih jalan mana yang segera membawa saya menemukan diri saya lagi.


Maka, saya mau bilang ke diri saya sendiri: hey, Gone! Bersabarlah sebentar. Nikmati saja perjalananmu menemukan bagian dirimu. Kalau memang harus menunggu agak lama di persimpangan, sabar saja dan keluarkan kecrekan siapa tahu dapet banyak recehan



foto diambil tanggal 31 Desember 2013

Saturday, December 24, 2016

Ngaku Dosa

Gila-gilaan ini blog udah setahun gue tinggal. Postingan terakhir beneran setahun yang lalu. Duh, maafkan saya ya pembaca setia *errr... emangnya ada?*


2016 ini sungguh keterlaluan serunya. Saking serunya saya jadi ga punya waktu buat nulis-nulis. Nah, mumpung 2016-nya belom abis, gpp deh ya nulis satu cerita.


Kali ini mau meracau tentang pengakuan dosa *religius amat sih Gon*
Meski saya udah Katolik dari bayi, dan udah belajar tentang sakramen-sakramen dalam Katolik sejak SD, saya bukan tipe yang rajin untuk melakukan pengakuan dosa. Kalau di SD & SMP saya ngaku dosa setahun 2x (biasanya deket Natal sama Paskah) karena kebetulan difasilitasi aja sih sama pihak sekolahan. Mayaaannn.. itung-itung bisa kabur bentar dari kelas *motivasi macam apaaaa ahahaha*


Di SMA, meski saya bersekolah di sekolah Katolik, tidak ada fasilitas pengakuan dosa. Biasanya kalau mau deket Natal atau Paskah, murid-murid yang rajin beribadah dan suka menolong pergi ke Katedral untuk ngaku dosa sepulang sekolah. Saya? Nggak deh. Soalnya pengakuan dosanya bukan pas jam pelajaran sih. Jadi gak seru hehehehe. Tiga tahun di SMA saya lalui dengan hanya satu kali pengakuan dosa, pas retret di kelas 3. Itu pun ngaku dosa semata-mata karena ya ga enak aja, masa udah difasilitasi lalu tetep ga ngaku dosa. Sama seperti pengakuan dosa saya yang sebelum-sebelumnya waktu di SD dan di SMP, momen ngaku dosa pas retret kelas 3 ini juga tidak menimbulkan kesan apa-apa.


Di kuliah, karena masuk universitas negeri, makin ga pernah lagi saya melakukan pengakuan dosa. Meski saya aktif di komunitas mahasiswa Katolik ketika itu, meski difasilitasi oleh romo pendamping mahasiswa, saya tidak pernah satu kali pun melakukannya. Alasannya: ah, malu! Kan sering ketemu sama romonya, nanti kalo dia ingat dosa saya gimana?


Tahun 2010 setelah lulus kuliah, saya yang ketika itu masih berstatus job seeker, coba-coba ikutan sebuah program dari KAJ. Namanya Kampus Orang Muda Jakarta. Sebelum memulai program KOMJak ini, ada retret 4 hari bagi para peserta. Di hari ketiga retret romo pendamping KOMJak ketika itu membuka layanan pengakuan dosa. Romonya bilang gini kalau saya ga salah ingat: "Nggak perlu buat daftar dosa panjang-panjang, sekarang kalian masing-masing renungkan dan temukan apa yang menjadi akar dari dosa-dosa yang sering kalian perbuat. Cukup 1 - 2 kata saja. Kalau sudah siap, saya tunggu di dalam."


Wooohhh... menarik sekali nih cara ngaku dosanya! Baiklah saya pun dengan senang hati melakukan pengakuan dosa. Di dalam ruang pengakuan, saya cuma sebentar. Paling cuma 5 menit. Karena beneran saya cuma nyebutin satu kata aja yang menurut saya ketika itu menjadi akar dari dosa-dosa saya. Enak nih ngaku dosa macam ini hahahahahahaha.



Waktu berlalu. Ratusan purnama terlewati. Saya nggak pernah lagi ngaku dosa sejak itu. Hingga suatu hari, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti MaGiS + WYD 2016 di Polandia *ehem, cerita lengkap tentang pengalaman di Poland sebenernya udah ditulis di blog lain, tapi masih dicicil dikit-dikit. Harap bersabar ya*


Polandia nih negara yang Katolik banget. Penduduknya mayoritas Katolik. Gerejanya ada banyak banget dan bagus-bagus. Bahkan di satu gang bisa ada 3 gereja Katolik bersebelahan. Tiap misa selalu dipenuhi umat. Namun, ada hal menarik yang saya perhatikan, Meski banyak orang datang mengikuti misa, tetapi tidak semua maju menerima komuni. Saya cuma bingung-bingung doang dalam hati: ini apa mereka belum pada dibaptis dan terima sakramen Mahakudus ya? Kok pada nggak ngambil komuni. Mau nanya langsung rasanya ga enak.Ya masa nanya langsung pas misa. Takut dikeplak. Mau nanya abis misa, saya udah lupa. Baru inget lagi pas misa. Gitu aja terus


Suatu hari, saya ngobrol sama seorang teman panitia MaGis. Sebut saja namanya Mikolaj (padahal emang itu namanya, cara bacanya me - co - why alias mikoway). Saya tanya kenapa nggak setiap orang maju terima komuni sih. Lalu Mikolaj bilang mereka yang ga komuni biasanya merasa ga pantes menyambut tubuh Yesus karena belum ngaku dosa. Di Poland, mereka punya kebiasaan ngaku dosa dulu baru layak terima komuni. Jadi, kalau mereka dateng misa tapi belum ngaku dosa, biasanya mereka gamau maju untuk komuni. Dan rata-rata mereka ngaku dosa seminggu atau dua minggu sekali. Wow! Saya geleng-geleng takjub. Saya jadi malu mengakui ke Mikolaj bahwa saya udah sekitar uhuk enam tahun ga ngaku dosa *tutupin muka pake bantal*


Pantesan ya saya sering banget liat banyak Om-om ber-collar (collar ya, bukan kolor. clerical collar, kerah putih yang biasa dipake rohaniwan: uskup, romo, bruder, bahkan para seminaris) yang duduk di taman sambil dengerin orang curhat. Saya baru sadar kalo itu romo yang lagi melayani pengakuan dosa. Warbiyasak ya!


Terus kamu sendiri gimana Gon? 


Kebetulan pas di kota Czestochowa, saya berkesempatan mengunjungi biara Jasna Gora bersama-sama dengan peserta MaGis lainnya. Lalu, di Jasna Gora ada ibadat rekonsiliasi dan pengakuan dosa. Karena peserta MaGis sendiri ada 2200 orang, ibadatnya dilakukan di lapangan terbuka sore-sore gitu. Romo yang mimpin ibadat ada di atas semacam balkon gitu deh. Nih saya comotin foto dari flickr nya MaGis 2016 biar ada gambaran.

Peserta MaGis ngikutin ibadah rekonsiliasi di lapangan biara Jasna Gora
source: flickr MaGis Poland

Romo Pawel mimpin ibadat rekonsiliasi dari atas balkon biara
source: flickr MaGis Poland

Nah para pesertanya di bawah tuh, keliatan ga?
source: flickr MaGis Poland



Para romo yang ada di acara MaGis dikerahkan untuk memberi sakramen pengakuan dosa. Romo-romo dengan jubah dan stola nyebar di pinggir-pinggir lapangan. Mereka bawa tulisan yang isinya bisa melayani pengakuan dalam bahasa apa saja.

Berarti romonya melayani dalam bahasa Spanyol dan Inggris
source: flickr MaGis Poland

Romo di sebelah kiri itu lagi nunggu 'pasien'
source: flickr MaGis Poland

beneran banyaaaakkk banget romo yang memberi sakramen pengakuan dosa. iyalah, peserta MaGis aja ada 2200 orang
source: flickr MaGis Poland



Saya ketika itu masih ragu, mau ngaku dosa apa nggak ya. Saya pun berjalan mengelilingi lapangan bersama seorang frater ganteng dari Brasil. Di antara 2200 orang peserta MaGis, tiba-tiba saya melihat sosok yang saya kenal. Temen saya si Mikolaj lagi ngaku dosa. Pas banget saya ngeliat moment si romo memberi wejangan ke Mikolaj dan dia ngangguk-ngangguk. Mulai timbul sedikit keyakinan dan keberanian dalam diri saya.


Eh, tapi mau ngaku dosa pake bahasa apa ya. Jangankan pake bahasa Inggris, ngaku dosa pake bahasa Indonesia aja saya udah lama ga melakukan. Saya nanya ke si frater ganteng yang dari tadi jalan di sebelah saya:
Gone: "Kamu mau ngaku dosa nggak?"
Frater: "Hm, not sure. Saya masih berusaha mengumpulkan keberanian untuk melamar kamu nih. Kamu gimana?"
Gone: "Sama, saya juga. Eh tapi ya, saya kayaknya mau ngaku dosa pake bahasa Indonesia aja deh."
Frater: "Memangnya ada romo dari Indonesia?"
G: "Ada satu romo Indonesia yang tugas di Macau dateng juga ke MaGis. Kalo saya berhasil menemukan dia di antara ribuan orang ini, saya ngaku dosa deh."


Jalan sepuluh langkah dan jreeennnggg... di sanalah si romo yang mengerti bahasa Indonesia lagi duduk. Makanya Gon, jangan suka mencobai Tuhan. Udah ga pernah ngaku dosa, malah ngerjain Tuhan. Muncul kan tuh si romonya. Hahahahaha


Namanya Romo Vincent. Pertama kali kenal pas di Jogja acara Magis Asia Pasific gathering. Romo Vincent mendampingi teman-teman MaGis dari Macau. Beliau asli suroboyo. Ngomongnya masih ada logat medok-medok sedikit. Setelah acara di Jogja, beberapa kali saya pernah chat dengan beliau.


Saya mondar-mandir di belakang romo Vincent. Antara yakin dan nggak. Romo-romo di kiri dan kanannya Romo Vincent udah mulai terima pasien. Romo Vincent kosong, belum ada yang antri. Bahkan mungkin karena nggak ada yang nyamperin setelah sekian lama *eh ini dalam konteks pengakuan dosa, bukan yang lain*, Romo Vincent pun ngelipet lagi stolanya. Lhaaaa.... dia tutup lapak. Ahahahahaha.


Di tengah kebingungan itu, si frater ganteng dari Brasil nyamperin saya lagi dan bilang: "Kalau kamu belum siap untuk mencintai saya, yuk saya temani ikut ibadat rekonsiliasi dulu. Sembari kamu merenungkan dosa-dosa dan mengumpulkan keberanian." Saya pun ngeloyor pergi (sorry Mo, saya pilih yang lebih muda dan lebih ganteng nyahahahahaha).


Saat ibadat rekonsiliasi saya merenung. Ini kesempatan yang bagus sebenernya buat saya ngaku dosa. Tuhan sendiri sudah mengundang saya. Dan ini adalah sebuah rahmat yang harus saya syukuri. Bahwa saya begitu dicintai oleh Tuhan meski saya berdosa. Saya diberi kesempatan untuk mengakui dosa-dosa saya dan diampuni olehNya. Apalagi ketika itu masih tahun kerahiman. Ada rasa hangat menjalar di hati saya ketika membayangkan bahwa Tuhan yang Maharahim mau mendengarkan pengakuan dosa saya, mengampuni saya dan tetap mencintai saya apa adanya.


Maka, saya pun dengan penuh sukacita menuju ke tempat romo Vincent berada. Ternyata, sudah ada antrian teman-teman MaGis Yogya yang juga ingin mengaku dosa. Saya giliran ketiga. Saya menunggu tak jauh dari tempat Romo Vincent berada, sambil berpikir...

...


...


... eh kalo ngaku dosa itu mesti ngapain dulu sih pertamanya?
 

(c)2009 racauan si tukang cerita. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger