Tuesday, October 20, 2020

Sanggupkah Kamu Berjaga Bersama-Ku Satu Jam Saja?

Wow, sudah 7 bulan #dirumahaja karena pandemi Covid-19. Gimana kabarnya? 


Saya sejak 17 Maret sampe hari ini full Work From Home. Eh sebulan pertama sempet Work From Kosan sih karena karantina mandiri, takut nularin orang rumah kalo pulang. Akhir April, setelah dirasa aman, saya pun memberanikan diri cabut dari kosan dan balik ke rumah orangtua. 

Awal-awal pandemi, saya mencoba tetap melakukan rutinitas. Ada beberapa hal baru yang saya lakukan di masa pandemi, tapi sebisa mungkin saya mencoba hidup teratur. 

Pagi bangun jam 5, cuci muka sikat gigi, lanjut misa harian online jam 5.30. Abis selesai misa, saya jalan kaki keliling komplek, biar badan bergerak sekaligus kena matahari pagi. Sekitar 30-45 menit kemudian saya pulang lalu mandi. Terus presensi online, bikin smoothies buat sarapan, lalu mulai kerja. 

Sesekali janjian zoom call sama teman-teman, sekadar update kabar. Untuk melepas lelah setelah kerja, biasanya saya pilih untuk nonton film maupun pertunjukkan teater online, baca buku, main sama ponakan, atau bercocok tanam hidroponik. 

Selain misa harian, saya juga ikut misa online hari Minggu. Kok rajin banget sampe misa harian segala? Buat saya, misa jadi salah satu pegangan karena keadaan pandemi yang serba tak pasti. Selain itu, saya seneng bisa pindah-pindah lokasi misa online dengan mudah. Hari ini misa di gereja Theresia Jakarta, minggu depan di gereja Theresia Bongsari Semarang. 

Semua terasa normal-normal saja. Sampai suatu hari, sekitar 3 bulan lalu, saya merasakan kekosongan yang aneh. Saya tidak lagi bersemangat mengikuti misa online (baik itu misa harian maupun mingguan), saya tak lagi merasa terhibur dengan pertunjukkan online maupun film, saya bahkan menolak ajakan zoom call dari teman-teman. Beberapa webinar yang rencananya akan saya ikuti pun akhirnya saya batalkan. 

Saya hanya conference call kalau ada meeting kantor (atau side job hehehe). Saya pelan-pelan menarik diri. Tampaknya saya mengalami apa yang disebut online fatigue alias kelelahan virtual. 

----------

Sebelum pandemi, buat saya misa atau ekaristi menjadi sebuah undangan 'kencan' dari Tuhan untuk merayakan kasihNya. Bayangin kalau kamu diajak nge-date sama orang yang kamu sayang. Pasti rasanya berbunga-bunga kan? Pasti semangat mikirin mau pakai baju apa, mau ketemu jam berapa, mau ketemu di mana, kira-kira bakalan ngobrolin apa, belum lagi jadi senyum-senyum terus menuju hari H. Persis kayak gitu yang saya rasakan setiap kali akan mengikuti misa di gereja.


Waktu mulai misa online, saya selalu nangis tiap kali komuni batin. Bayangin aja kayak lagi LDR sama pasangan, ga bisa ketemu, terus rindu banget sampe nangis. Eh apalagi komuni batin juga ada lagunya kan tuh. Bagus banget. Saya jadi mewek kalau denger lagunya.




Sayangnya semua itu pelan-pelan berubah. Misa online buat saya tak lebih semacam nonton series di Netflix atau Disney+. Saya hanya jadi penonton, saya tidak lagi terlibat. Kalau sudah berlangganan Netflix, kita jadi bisa nentuin kapan kita mau nonton, dan semuanya jadi tergantung sama jadwal kita. Kalau lagi sempet ya nonton, kalau nggak yaudah toh masih bisa minggu depan. 

Saya menjadi berjarak dengan Dia, Sang Kekasih Jiwa. Saya yang tadinya rajin misa harian, akhirnya cuma misa hari Minggu.

Misa online jadi terasa hambar, homili lewat begitu saja. Sehabis misa, yang muncul hanya rasa tidak nyaman. Bahkan pernah, saya memutuskan menyudahi misa online padahal belum selesai karena rasa tidak nyaman itu begitu mengganggu. Kemudian, saya jadi sama sekali tidak ikut misa di minggu-minggu berikutnya.

Dengan sotoy saya berpikir: ah palingan Tuhan juga paham, kan lagi pandemi gini. Gapapa kali kalau nggak misa (situ siapaaaa mulai ngatur-ngatur Tuhan heeeeyyy).

Tidak terasa, sudah 3 bulan saya tidak pernah lagi ikut misa online. Lalu kemarin, saya akhirnya mencoba misa online lagi. Saya pilih ikut di gereja Theresia, Menteng, Jakarta hari Minggu jam 19.00. Gereja Theresia ini salah satu sanctuary buat saya tiap kali pikiran saya lagi kacau dan butuh jeda sejenak. Lokasinya deket banget sama kantor, tinggal jalan kaki 5 menit. Jadi waktu liat gereja Theresia lagi di layar laptop, saya sedikit terharu.

Sebelum misa, saya berdoa minta diberi petunjuk, diberi peneguhan, diberi undangan atau entah apa namanya, supaya semangat mengikuti ekaristi balik lagi. Sepanjang misa saya sibuk menerka-nerka, sibuk mencari-cari. Nggak ada. Nggak ada tanda apa pun. Bahkan dari homili juga ga ada sesuatu. Dont get me wrong. Bukan khotbahnya yang jelek, hanya saya aja yang kondisi batinnya sedang tidak baik-baik saja. Perasaan tidak nyaman masih terus muncul.

Sampai hari ini, tiba-tiba seorang teman baik memberi reaction atas postingan IG story yang bilang bahwa saya akhirnya insyaf ikut misa lagi setelah 3 bulan. Saya pun langsung curhat panjang lebar sama dia mengenai kegundahan hati saya selama ini. Jawaban dari teman baik saya tetap kurang memuaskan buat saya. Saya sedikit berharap ada kata-kata peneguhan supaya saya kembali semangat mengikuti ekaristi. 

Lalu, obrolan kami mulai pindah topik. Saling menanyakan kabar, curhat ini itu. Saat saya sedang menceritakan kabar saya dan kesibukan akhir-akhir ini, jawaban dari teman baik saya ini sungguh tidak disangka-sangka dan membuat saya diam cukup lama. Kira-kira temen baik saya bilang begini: "Gue membayangkan Yesus sendiri yang ngomong sama lo: Angguni, sanggupkah engkau berjaga bersamaku satu jam saja? waktu Yesus lagi mau berdoa di Taman Getsemani sebelum akhirnya ditangkap dan diadili." 

DUAAAARRRR!!!!
Sebagai manusia yang tubuhnya terdiri dari 50% lemak dan 50% air mata, saya langsung nangis ga karuan. Padahal teman baik saya menjawab itu untuk merespons kisah saya yang lain, bukan soal misa online. Tapi buat saya ini cara Dia menyapa saya. Menanyakan apakah saya sanggup untuk berjaga satu jam aja nemenin Dia yang sedang berdoa kepada Bapa dengan penuh ketakutan. Saya membayangkan kalau orang yang saya sayang meminta saya untuk nemenin dia selama satu jam karena mungkin sedang ketakutan, pasti saya langsung mau nemenin.

Saya tuh dikasih banyaaaaakkk banget sama Tuhan, dikasih keluarga, dikasih teman-teman, dikasih pekerjaan, dikasih tubuh yang sehat, dikasih waktu yang cukup untuk melakukan banyak hal, tapi kenapa ngeluangin satu jam aja kok ga sanggup. Satu jam seminggu sekali. 

Saya suka nggak habis pikir. Saya nih siapa sih, kok segitunya Tuhan sayang banget sama saya. CintaNya selalu luber-luber dicurahkan ke saya. CintaNya selalu lupa takaran. Bahkan ketika saya mungkin lagi merasa nggak mau misa, nggak mau ketemu Dia, nggak mau ngobrol, Dia tetep setia nungguin saya, dan ngirim "penolong" yaitu lewat teman saya.

Sejujurnya, refleksi teman saya mengenai berjaga bersama Dia satu jam saja di Taman Getsemani sudah pernah saya dengar sebelumnya. Kali ini saya mendengarnya lagi dan merasa bahwa Dia selalu punya cara menyapa saya yang sering kehilangan arah. Seperti kata Father James Martin, SJ: God meets you where you are. Dia menyapa saya lewat teman baik saya.

:)

Monday, October 21, 2019

Patah Hati Berkali-kali

Sepanjang ingatan saya, sudah tiga kali saya patah hati dengan orang yang sama. Entah karena masokis (senang menyakiti diri sendiri), entah karena saya lebih bodoh dari keledai (karena kejeblos di lubang yang sama tiga kali).

Patah hati pertama berlangsung sekitar tujuh tahun lalu. Saat dia memilih jalan yang sunyi untuk menapaki kehidupan. Saya yang waktu itu menjadi salah satu orang yang cukup dekat dengannya merasa tidak bisa memahami pilihan hidup yang diambilnya.

"Mengapa kamu memilih jalan itu? Mengapa kamu ingin berjalan sendirian? Mengapa kamu menolak kehadiranku untuk menemanimu melangkah? Mengapa kamu mengurung diri dalam tembok yang tinggi dan dingin?" Pikiran-pikiran itu terus berkecamuk saat dia berpamitan di suatu sore.

Padahal jelang seminggu sebelum kepergiannya, kami selalu menghabiskan waktu bersama-sama setiap hari. Semakin dekat, semakin lekat. Meski saya sudah pernah mendapatkan materi mengenai Lepas Bebas, sore itu rasanya gagal untuk bisa merelakannya begitu saja. Saya tak dapat membendung tangis. Saya berjanji untuk mendoakannya meski selalu disertai airmata.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah menghabiskan waktu satu bulan di balik tembok yang memisahkan dunianya dengan dunia luar, ia terpaksa harus kembali ke kampung halamannya.

Saya menerima sebuah pesan singkat untuk menemuinya di sebuah convenience store tak jauh dari rumahnya. Tubuhnya begitu kurus, wajahnya begitu sedih, dan berkali-kali ia menarik napas berat. Ia menuturkan kisah bahwa ternyata jalan yang ia pilih justru menyakiti orang-orang terdekatnya, terutama keluarganya. Ia memutuskan pulang demi keluarganya meski ia sendiri masih menyimpan harapan untuk bisa kembali pada pilihannya.

Saya yang waktu itu masih belum pulih benar dari patah hati yang pertama (karena baru sebulan berlalu), mau tak mau tetap mendukung dan menemaninya. Dengan tertatih-tatih, saya kumpulkan serpihan hati saya sembari terus-menerus ada di sampingnya.

Ternyata ini menumbuhkan lagi harapan baru untuk saya. Lima bulan kami menghabiskan waktu bersama-sama. Semakin dekat, semakin lekat. Suatu hari kami berwisata ke luar kota. Sekitar satu minggu kami menikmati perjalanan, naik turun kendaraan umum, tidur dengan menggelar sleeping bag, mandi di tempat-tempat umum, agenda perjalanan yang spontan, bahkan pasrah berjalan kaki di tengah guyuran hujan deras.

Liburan usai, saatnya kembali ke kehidupan nyata. Di awal tahun baru, ia memutuskan ingin memulai kehidupan baru, di kota yang baru. Maka, lagi-lagi kami harus berpisah arah. Saya kembali ke Barat, ia menuju ke Timur.

Saya ingat perjalanan pulang kali itu saya tak berhenti menangis. Saya bahkan enggan makan, enggan masuk kantor keesokan harinya, enggan berbicara dengan siapapun.

Saya merasa ditinggalkan, saya merasa sendirian. Saya patah hati lagi untuk kedua kalinya.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Meski demikian, api harapan masih menyala dalam hati saya tiap kali bertemu dengannya. Kami lebih sering bertemu ketika ia mudik ke kampung halamannya.

Sebenarnya sudah beberapa kali saya mengusahakan untuk menemuinya di kota tempat tinggalnya, tetapi keberuntungan belum berpihak pada saya. Entah berapa kali dalam setahun saya melakukan perjalanan dinas ke Timur, tetapi waktunya tidak pernah pas.

Sekitar dua tahun lalu, ketika saya sedang berada pada titik terendah dalam hidup, bingung mau melangkah ke mana, tidak punya pekerjaan, tidak punya penghasilan tetap, saldo tabungan kian menipis, tidak ada satu pun panggilan dari puluhan lamaran pekerjaan yang sudah saya kirim, dia menghibur dan menenangkan saya.

Bahkan sebuah kalimat yang tidak akan saya lupa: "Pindah sini aja yuk, temani saya di sini" langsung membuat saya terlena. Saya mencoba menimbang-nimbang segala kemungkinan untuk pindah ke kotanya.

Namun, Tuhan mungkin terlalu sayang sama saya. Sebelum saya membuat keputusan bodoh untuk pindah, dia lagi-lagi menghancurkan hati saya. Dalam sebuah obrolan, tiba-tiba tercetus bahwa dia akan mudik seminggu ke kampung halamannya. Tapi mudik kali ini berbeda.

Dia akan membawa kekasih hatinya. Kekasih yang telah bersamanya sejak ia memulai kehidupan baru di kotanya. Kekasih yang tak satu kali pun ia ceritakan pada saya. Kekasih yang mungkin jadi alasan mengapa saya tak pernah berhasil menemuinya saat melakukan perjalanan dinas ke kotanya.

Airmata saya tidak berhenti mengalir. Segala perasaan yang selama ini saya pendam untuknya, segala harapan yang selama ini tumbuh subur di hati saya, tiba-tiba berubah menjadi amarah.

Hubungan kami merenggang. Saya memilih untuk menjauh. Dia bukan lagi orang pertama yang saya ceritakan tentang kejadian-kejadian penting dalam hidup. Mungkin dia sadar bahwa saya berubah, mungkin juga tidak.

Dua tahun ini, saya terus menjaga jarak dengannya. Dua tahun ini saya selalu mencari-cari alasan untuk menolak menemuinya tiap kali ia mudik. Dua tahun ini saya menjawab pesannya dengan dingin dan ogah-ogahan.

Patah hati yang ketiga ini jadi patah hati terberat. Meski sudah dua kali patah hati sebelumnya, bukan berarti saya jadi lebih mudah melewatinya.

Saat ia mengirimkan undangan pernikahan, saya seharusnya sudah bisa memprediksinya sejak dua tahun lalu. Tetapi tetap saja airmata mengalir deras sampai hari ini.



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seorang teman pernah menasehati:

"Mungkin tugas kalian untuk saling menemani sudah selesai. Kamu sudah membantu dia, dan dia pun sudah membantu kamu. Kini saatnya melepas. Berani jatuh cinta, maka juga harus berani melepas. Semoga kamu bisa melepasnya dengan baik dan memberkatinya dengan kehidupan barunya."

Mungkin sekarang saya belum bisa mendoakannya seperti dulu. Mungkin sekarang saya perlu untuk mendoakan diri saya sendiri supaya bisa mengikhlaskannya. Mungkin yang pertama-tama perlu saya lakukan adalah berdamai dengan diri saya sendiri.


Kilas Balik

Kalau diingat-ingat, awal mula saya bikin blog ini adalah untuk 'memuntahkan' segala pikiran dan perasaan karena ketika itu saya sedang patah hati. Saya selalu percaya bahwa menulis dapat menyembuhkan.

Hari ini, sembilan tahun kemudian, ketika saya mengalami patah hati lagi (dengan orang yang berbeda tentunya), saya membuka-buka semua racauan-racauan saya selama ini.

Lucu rasanya melihat bagaimana saya berhasil sampai pada titik yang sekarang, setelah melewati pengalaman-pengalaman yang kala itu membuat saya hancur dan merasa berada di titik terendah.

Ternyata selalu ada yang bisa disyukuri dari pengalaman sedih dan terluka. Ternyata saya begitu dicintai olehNya, Sang Pemberi Kehidupan, lewat orang-orang yang dikirimkan untuk menemani saya melewati momen-momen patah hati. Ternyata penting untuk mendokumentasikan pengalaman patah hati supaya saya berani untuk terus melangkah.

Maka, mulai hari ini saya putuskan untuk mulai meracau lagi di sini, untuk mengeluarkan keruwetan yang ada di kepala, untuk merayakan patah hati saya (entah yang ke berapa kali), sambil pelan-pelan menerimanya dan kemudian melanjutkan hidup.

Semoga saya bisa bersabar melewati proses yang menyakitkan ini.


Friday, February 15, 2019

Tuhan Maha Romantis

Sejujurnya saya nggak inget kalau hari ini Valentine. Sampai pas di kantor, BuBoss bagi-bagi roti rasa kopi dengan ucapan:

Here's to many more Valentine's Day

Sayang saya nggak sempet fotoin. Saya cuma bisa bersyukur karena lagi laper belom sarapan. Lumayan dapet roti rasa kopi buat ngeganjel perut sampai jam makan siang.

Pulang kantor, saya berniat ke gereja Theresia. Soalnya kantor baru lokasinya deket banget, tinggal jalan kaki lima menit ke gereja. Ini kali kedua saya mampir setelah pindah ke kantor baru.

Saya datang dengan keluh kesah. Kebiasaan memang, baru dateng ke Tuhan kalau punya masalah. Kalau lagi seneng, yaelah mana inget.

Baru seminggu saya pindah ke kantor baru, saya masih #belummoveon dari kantor sebelumnya. Masih suka banding-bandingin yang baru sama si mantan.

Entahlah, saya merasa kurang diterima di tempat yang baru. Apalagi kantor baru dan kantor lama ini berbeda 180 derajat. Meski jenis pekerjaannya masih mirip-mirip, tapi banyak hal yang justru sangat berkebalikan. Misalnya soal jam kerja, kedisiplinan, kerapian berpakaian, pola komunikasi dengan atasan, dll. Bahkan di kantor baru ini, saya takut sekali untuk makan camilan sambil kerja. Sungguh terbalik dengan di kantor lama di mana saya punya sobat jajan sore yang setiap jam 4 tak pernah absen ngajak turun jajan.

Saya selalu becanda bilang: "wajar, belum 40 hari, masih suka gentayangan." Dan saya selalu membesarkan hati bahwa mungkin perasaan ini muncul karena saya belum terbiasa saja. Lagian ini baru seminggu, kok udah mau nyerah sih Gon?

Mau cerita ke Mba Petty, kok rasanya malu. Pasti diledek suruh balik aja. Pas masih di kantor lama, temen-temen saya selalu bilang: "Ah kamu cuma sabbatical leave, bukan resign. Nanti juga 6 bulan balik lagi." HEY... SAYA BELUM PINDAH AJA UDAH DISUMPAHIN BALIK HEEEEYYYY!!!

Mau cerita ke temen di kantor baru, kok rasanya nggak enak hati.

Mau cerita ke Chika, roommate saya di kosan, tapi dia juga lagi punya banyak banget hal yang harus dipikirkan mulai dari kerjaan, kuliah, dan juga keluarga. Rasa-rasanya kok nggak tega harus nambahin lagi dengan masalah saya.

Mau cerita ke orang-orang terdekat saya (sebut saja Vic, Dian, Moncil, Febby, Rere, Widha, dll - memang nama sebenarnya), kok ya kesannya saya ini mengeluh terus, nggak ada bersyukurnya.

Kayaknya memang tempat paling tepat untuk berkeluh-kesah adalah ke Tuhan. Maka, tidak heran sampai di gereja saya langsung curhat macem-macem. Saya ceritain semua kegundahan saya.

"Tuhan, apakah jalan yang saya pilih ini sudah tepat? Apakah saya cuma mencari 'pelarian' saja? Apakah saya berguna bagi banyak orang dengan melakukan pekerjaan ini? Tuhan, saya tuh banyak ngeluhnya ya? Kemaren-kemaren bilang mau cari kerjaan yang lebih baik (secara finansial). Giliran dapet, ngeluh kurang ini itu. Blablablabla..."

Saya ngeluhnya panjang banget. Tanpa sadar airmata netes. Buru-buru saya lap pake tangan. Khawatir kalo sampe diliat orang.

Kemudian misa pun dimulai. Bacaannya sih dari kitab Kejadian yang biasanya suka dipilih sebagai bacaan kalo misa kawinan (udah hafal banget saking seringnya jadi lektris kalo temen nikah). "Tidak baik kalau manusia seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong yang sepadan dengan dia."

Dalam keadaan normal (nggak bleweran airmata dan ingus), mungkin saya udah celingukan nyari "penolong" yang dimaksudkan Tuhan. Hehehehehe. Tapi dalam keadaan abis curhat, masih galau, masih sedih, saya cuma bisa tarik napas lalu airmatanya berjatuhan lagi.

Saya lupa bacaan Injil nya tentang apa. Soalnya udah terlalu sibuk ngelapin airmata sama ingus hehehe.

Nah pas khotbah, Romo Bei ngebahas soal Yesus yang nggak diterima di kota asalnya. Serigala punya liang dan burung punya sarang, tapi Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepalaNya.

DEG! Langsung berasa ketampar loh. Saya baru seminggu di kantor baru, udah berasa nggak nyaman, udah berasa ga diterima. Halooohhh... apa kabar nih Yesus yang ga diterima dan ga dihormati di kampungnya sendiri. Huhuhuhu nangisnya makin brutal dong pas denger khotbah.

Lalu setelah komuni, Romo Bei menutup doanya dengan: Jangan takut, Aku menyertai engkau sampai selama-lamanya.

AMBYAAARRR PEMIRSAAAAA...
Sungguh pesan Valentine yang NYES sekali!

Tuhan tuh romantis. BANGET. Saya nggak dikasih cokelat, nggak dikasih kembang, tapi dikasih sesuatu yang sedang saya butuhkan saat ini. Sesuatu yang menguatkan saya untuk menjalani hari-hari di kantor baru.

Seperti yang selalu diulang oleh Vic mengutip dari tulisan Father James Martin yang juga mengutip kata-kata seorang Jesuit bernama David Donovan: God meets you where you are.

Tuhan nih tau banget apa yang saya lagi perlu denger. Sebagai orang yang love language nya Words of Affirmation (sebenernya love language pertama sih Quality Time, kedua baru Words of Affirmation), disapa begini sama Tuhan langsung klepek-klepek.

Kamu sendiri pernah ga sih disapa Tuhan dengan cara yang manis?

Thursday, August 23, 2018

Ovarium Membuncah Bahagia

Disclaimer: Bakal ngebahas soal menstruasi tapi dengan gaya saya. Kalau merasa pembahasan ini tabu atau menjijikan, tak usah dibaca hehehehe.

Mungkin circle terdekat saya udah pada tau gimana ngaconya jadwal menstruasi saya selama ini. Terakhir menstruasi yang lumayan teratur (sebulan sekali) itu di 2016. Sepanjang 2017, hanya mens 5x dalam setahun. Lalu, terakhir mens di November 2017 dan belum mens lagi sepanjang 2018.

Saking ga teraturnya jadwal mens saya, saya jadi punya kebiasaan nyatet di aplikasi Period Tracker

Dulu juga pernah nggak teratur kayak gini, jaman-jaman kuliah semester 2 atau 3. Saya nggak mens selama 5 bulan. Ibu saya yang khawatir dengan kondisi ini langsung menyeret saya ke dokter kandungan.

Pas lagi ngantri di dokter kandungan, banyak pasangan yang mau periksa kehamilan. Sambil nunggu, saya bisik-bisik ke ibu saya, "Mah, mamah jangan mengira di dalem sini ada kehidupan ya" *sambil usap-usap perut*
Ibu saya langsung nyamber: "Yeeee... pacar aja nggak punya!"
Sebuah jawaban telak yang cukup menyakitkan, pemirsaaaa.... eh tapi kalo dipikir, ibu saya gimana deh, kalo ada pacar kan justru ada yang bisa dimintain pertanggungjawaban, lha kalo ga ada pacar, sapa yang mau tanggung jawab??? Masa roh kudus? Heeeyyyyy,,, kamu bukan Bunda Maria! *dihujat netijen*

Nah, ketika itu dokter melakukan USG dan katanya nggak ada yang aneh-aneh di rahim saya. Tapi saya diresepin obat. Pertama, obat buat 'mancing' yang harus diminum sampe saya mens. Waktu itu saya minum tiap hari selama 3 hari, dan voila... akhirnya saya mens deh. Lalu, saat mens hari pertama, saya disuruh minum pil KB. Iya, pil KB yang biasa diminum untuk mengatur jarak kehamilan itu.
Katanya, menstruasi saya nggak lancar karena hormon ga seimbang, dan kandungan dalam pil KB bisa membantu menstabilkan hormon. Ketika itu saya masih begitu hijau dan polos, jadi ya nurut aja apa kata dokter. Saya minum deh tuh pil KB selama sebulan. Ribet banget cuy minum pil KB itu, ada aturannya, mesti tepat waktu di jam yang sama setiap hari. Yaelah, saya ini kan ngawur banget ya hidupnya, napas aja kadang lupa, eh disuruh minum pil KB yang banyak aturan kayak pacar posesif. Setengah mati berusaha menghabiskan pil KB itu pokoknya.

Terus bulan berikutnya mens dengan lancar? ENGGAK!
Terus balik lagi ke dokter? MALES!

Yaaaa pasti dikasih obat ini itu lagi. Disuruh ngulang minum pil KB lagi? Tidak terima kasih. Ribet banget woy!

Okeh itu cerita dulu waktu masih kuliah. Fast forward ya ke masa sekarang. Terakhir mens di November 2017 adalah masa paling lama untuk saya tidak mens. Tiap bulan saya deg-degan, kira-kira saya bakal mens ga ya bulan ini?

Masalahnya, tiap bulan saya ngerasain PMS (Pre-Menstrual Syndrome, bukan Penyakit Menular Seksual), ya nyeri di perut bagian bawah, ya mood swing, ya tulang2 linu ga jelas, tapiiii... ga  ada darah yang mengalir. Kan sebel yak, tiap bulan ngerasain sakitnya doang.

Lalu, saya mulai cari tahu kenapa sih sebenernya saya bisa sampe nggak mens lama banget. Oh, saya tuh lebih suka ikutan kelas self healing, pake essential oils, meditasi, grounding, jadi vegetarian, dsbnya, dibanding ke dokter dan minum obat (monmaap bagi para dokter di luar sana). Saya cuma nggak mau terus-terusan minum obat. Saya harus bisa nyembuhin diri saya sendiri. *kemudian ada netijen yang berkomentar: emang situ dukun? emang apa salahnya minum obat? HEY JANGAN NGATUR!*

Singkat cerita, saya sadar permasalahan tidak mens ini karena hormon, bukan karena ada kista atau apa lah gitu di rahim atau indung telur saya. Saya cari tau gimana sih cara nya nyeimbangin hormon dengan alami.

Saya banyak ngobrol dengan Mbak Christina dari SAE Home Remedy yang biasa ngeracik essential oil. Saya dari dulu pake produk-produknya Mba Christin dan cocok. Mbak Christina ini juga pernah mengalami permasalahan hormon juga.

Mbak Christin menyarankan saya melakukan beberapa hal:
- berjemur tiap pagi (antara jam 7 - 9 pagi) sambil nyeker di rerumputan. Katanya orang yang mengalami imbalance hormone biasanya kekurangan vitamin D. Yhaaa... sedih amat, hidup di negara tropis tapi kok kekurangan sinar matahari. Sapa suruh duduk mulu di dalem ruangan. Terus ngapain nyeker di rumput? Buat grounding atau earthing gitu lah, ngecharge energi sama Mother Earth. Ini sempat saya lakukan kalau lagi pulang ke rumah. Berjemur bareng ponakan saya di lapangan rumput dekat rumah. Akhir-akhir ini malah udah nggak pernah lagi. Sulit bangun pagi nih hehehehe.



Bayangan saya dan ponakan di lapangan rumput deket rumah


- minum maca powder. Maca ini berbeda dengan matcha ya. Matcha kan teh hijau, kalo maca ini adalah Peruvian ginseng. Bentuknya kayak bengkoang, tapi saya beli dalam bentuk bubuk yang tinggal dicampur sama minuman kayak jus, teh, kopi (saya campur pake kolak biji salak. Enak!). Baunya kayak momogi jagung. Rasanya hambar. Kalo dicampur sama minuman ga gampang larut, malah bergerinjelan gitu (kecuali diblender bareng smoothies atau jus ya). Saya beli di shopee kalo ga salah waktu itu. Dan ga abis-abis karena tiap minum cuma satu sendok teh doang. Eh kalau kalian googling tentang benefit dari maca powder, salah satu yang paling di-highlight adalah untuk meningkatkan gairah seksual. WOOOWWW!!! Hahahaha ya tapi saya minum maca powder bukan untuk itu deh, tapi untuk menyeimbangkan hormon.

Ini saya beli di shopee, nama tokonya Genki Plant

- minum Virgin Coconut Oil. Saya sempat melakukannya rutin tiap pagi pas baru bangun dan perut masih kosong. Tapi sekarang belum dilakukan lagi karenaaaa.... VCO saya ilang, lupa taro di mana.

- diet gluten. Makanan yang mengandung gluten (gandum atau tepung terigu) katanya bisa bikin hormon berantakan. Dipikir-pikir ya bener juga, gandum kan ga ditanem di Indonesia, orang Indonesia tuh makanan pokoknya nasi bukan terigu. Jadi wajar kalo ada yang jadi ngaco di badan. Gila hebat bener nih rancangannya Tuhan. Anyway saya merasa diet gluten berat banget sis! Saya pecinta roti. Belum lagi keinginan jajan gorengan. Susaaahhhh... Saya cuma bertahan diet gluten sebulan aja.


via GIPHY

- minum bone broth alias kaldu tulang. Yang ini belum saya lakukan karena harganya cukup mahal dan ga yakin bakal sanggup minumnya.

- perbanyak makan sayuran hijau. Ini gampang banget. Comfort food saya tuh salad. Jadi kalo lagi rungsing dan banyak pikiran, pengennya jajan salad.

- jangan begadang. Yhaaa ini sulit sih. Lah ini udah jam 3 pagi masih aja nulis blog.

- minum Evening Primrose Oil. saya pilih yang udah jadi bentuk kapsul. beli yang merk Blackmores. Nitip temen pas pulang dari Darwin. Soalnya lebih murah dibanding yang dijual di Indonesia. Ini saya minum sehari sekali. Eh tau nggak kalo di skincare, evening primrose oil sering dipake untuk serum anti-aging. Nah mudah-mudahan karena saya rajin minum kapsulnya, muka saya bisa awet muda *saatnya menggebet brondong*

Paginya saya baru minum satu kapsul doang, malemnya langsung mens

- rutin olahraga. Yak, hampir dapat dipastikan saya males olahraga dengan alasan ga punya waktu. Tapi lumayan nih sejak ngekos, saya olahraganya dengan jalan kaki dari kantor ke kosan. Mayan 15 menit. Harusnya pas berangkat juga. Tapi, saya kalo ke kantor kan siang ya, baru jalan jam 10an. Panas kaaakkkk...

- oles-oles oil yang diracikin Mba Christin. Iya, sekalian curhat, sekalian saya minta diracikin essential oils yang sekiranya membantu menyeimbangkan hormon (kalau ada!). Waktu oilnya dateng, saya ngerasa kok kayak bau kangkung. Jadi kalo oles2 ke bagian2 tubuh, saya ngerasanya kayak kangkung seger baru dipetik.


- berdoa Bapa Kami dan Salam Maria. Serius ini mbak Christin nyuruh begini. Saya lakuin? Iya tapi setengah hati. Sampai suatu hari di bulan Juli, pas lagi perjalanan menuju Yogya, sahabat saya Moncil ngajakin doa rosario. Jadilah saya di kereta doa rosario bareng Moncil deh. Kalo pas rosario kan berarti berdoa Bapa Kami dan Salam Maria berulang-ulang tuh.

Lalu apakah semuanya berhasil? Kebetulan saya sudah menjalani beberapa saran di atas selama sebulan.

Suatu hari, tepatnya tanggal 25 Juli, saya akhirnya mens pemirsaaaa.... HOREEEE!!! Setelah 8 bulan tidak mens, saya kira saya bakal lahiran bulan Agustus #eh.

Kenapa saya bisa inget kapan saya mens? karena itu adalah tanggal tahbisan imamat Jesuit. Ceritanya perjalanan ke Jogja yang saya sebutkan sebelumnya adalah untuk menghadiri misa tahbisan. Kebetulan saya mengenal lima orang yang ditahbiskan tersebut.

Sepulang misa, ada flek darah pas lagi pipis. Tapi saya nggak mau GR. Mengingat sudah lama sekali dari sejak terakhir mens (saya aja sampe lupa ga punya stok pembalut!!!).

Tapi setelah beneran kemudian darahnya mulai banyak keluar di pembalut, saya baru berani bilang ke orang-orang: HEY PEOPLE, TERNYATA AKU GA HAMIL LHO


via GIPHY

Orang-orang mulai heboh ngasih selamat. Ibu saya mau tumpengan. Mba Petty, mbakboss baikhati kesayangan akuh, sampe mau ngadain pesta kembang api. Semua bersyukur dan bersukacita.

Namun, kalo ditanya apakah saya berhasil mens karena menjalani semua hal-hal tersebut di atas? Jawabannya: nggak tau.

Bisa iya, bisa juga nggak.

Bisa juga karena.... SAYA DAPET BERKAT DARI ROMO-ROMO YANG BARU DITAHBISKAN, MANA ROMONYA GANTENG-GANTENG JADI OVARIUM SAYA MEMBUNCAH BAHAGIA!!!



Sengaja ngasih foto yang ga terlalu jelas mukanya, daripada kamu naksir. Lima-limanya udah nggak available ya. Tuh jidatnya ada cap: MILIK TUHAN

Makasih berkatnya ya Romo Melky!

eh tapi kalo kayak gitu, saya mesti rutin dateng tahbisan tiap bulan dong biar mens lancar? *brb ngecek jadwal tahbisan dari ordo lain.

Sunday, December 24, 2017

7 Alasan yang bikin saya mewek jelang Natal tahun 2017

Hari-hari jelang Natal, perasaan saya campur aduk. Beberapa peristiwa muncul bergantian bikin saya mewek terus-menerus. Meminjam istilah teman saya, mungkin saya udah ngabisin jatah airmata untuk quarter pertama tahun 2018 bahkan sebelum 2017 berakhir.

Meweknya gak melulu karena sedih dan menderita. Ada terharunya, ada bersyukurnya, ada senengnya. Makanya saya bilang campur aduk. Emang dasar si Aquarius ini kelenjar airmatanya rapuh banget, ditambah hatinya kayak jajanan rambut nenek yang kena ludah langsung lumer.

Sebenernya Natal tahun ini saya tuh antara siap nggak siap. Saya belum ngaku dosa, saya cuma dua kali misa Adven (yang pertama dan kedua), dan saya biasa-biasa aja menyambut Natal.

Terus karena siap nggak siap itulah, serentetan peristiwa yang muncul beberapa hari jelang Natal malah seakan jadi cara Tuhan dalam mempersiapkan saya menyambut kelahiran-Nya.

1. Me-time seminggu

Natal kali ini saya jadi Macaulay Culkin alias Home Alone. Mama, papa, adik, ipar, dan ponakan mudik ke Malang. Saya sih rencananya ikut, bahkan udah ambil cuti dan diapprove, tapi karena satu dan lain hal, akhirnya memilih batal saja.

Saya yang biasanya kalo Natal paling sibuk sana sini dan beberapa tahun belakangan absen pergi misa Malam Natal sama keluarga, malah gantian sekarang ditinggal sendirian jaga rumah. Sukurin, emang enak!

Tapi justru dengan sendirian ini saya jadi punya banyak waktu untuk diri saya sendiri dan mengambil jarak dari kesibukan. Tahun lalu, saya melewatkan malam pergantian tahun dengan retret 8 hari, menyepi, menenangkan diri, tidak nyalain hp. Sempet ngomong sama sahabat saya, Vic, tahun ini mau retret lagi deh. Tapi gatau kapan dan di mana. Eh beneran tuh dikasih waktu buat sendirian. Seminggu!

Alasan mewek: ternyata rindu juga bisa sendirian begini, ternyata jadi punya kesempatan merenungkan macem-macem, termasuk mensyukuri punya keluarga.

2. Ingin menolong teman yang kesusahan

Salah seorang teman tiba-tiba menghubungi setelah beberapa bulan terakhir 'menghilang' karena mudik ke kampung halamannya. Ia anak rantau yang tadinya bekerja di Jakarta, namun kontrak kerjanya telah habis dan memilih untuk kembali ke kampung halaman dan membangun usaha. Ia ingin menggunakan modal yang selama ini ia kumpulkan dari hasil kerja kerasnya selama di Jakarta.

Singkat cerita, ia ditipu saat sudah kembali lagi ke Jakarta. Seluruh tabungannya terkuras habis. Empat hari jelang Natal ia menghubungi karena terdesak tidak lagi punya uang untuk makan sehari-hari. Lagipula ia sendirian di Jakarta. Sisa uang di rekening tinggal 8 ribu Rupiah dan beberapa puluh ribu di kantong yang ia hemat-hemat.

Sudah hampir seminggu ia hanya makan satu kali sehari, itu pun kadang hanya mi instan. Tubuhnya jauh lebih kurus dibanding tahun lalu saat pertama kali kami bertemu. Suaranya di telepon begitu kalut namun sekaligus sungkan karena tak ingin membebani saya dengan kisahnya.

Alasan mewek: Bayangkan, empat hari sebelum Natal, sendirian di rantau, tidak punya uang untuk bertahan hidup, dan tidak tahu harus minta tolong siapa. Keluarga di kampung? Dia tulang punggung keluarga! Saat menghubungi saya, posisi saya belum gajian dan keuangan lagi seret. Sedih sekali hati saya karena sebenarnya saya ingin membantu tetapi saya tak punya cukup uang.

3. Relasi saya sama Tuhan

Kalau yang pernah baca postingan saya sebelum ini tentang bagaimana saya akhirnya mendapat pekerjaan setelah berbulan-bulan luntang-lantung, tentu tahu betapa saya mensyukuri pekerjaan saya yang sekarang.

Inget banget tanggal-tanggal segini tahun lalu jelang Natal, nasib saya serba nggak pasti. Mau menghadapi tahun baru tapi masa depan saya warnanya suram ketika itu. Saya terombang-ambing gatau mau ke arah mana, gatau mau ngapain, gatau bakal seperti apa.

Kalau dulu saya sering meragukan bahwa Tuhan ada bersama saya ketika masa-masa sulit nyari kerjaan, sekarang justru ketika akhirnya saya punya pekerjaan dan penghasilan tetap, eh malah saya yang kayaknya lupa sama Dia.

Saya merasa hubungan saya dan Tuhan udah nggak mesra lagi. Saya sombong mengira yang saya lakukan dan yang saya punya semata-mata karena kehebatan saya. Saya ketampar banget dengan sebuah quote dari Esjepe: Tuhan tidak pernah pergi, kita yang sering meninggalkan-Nya. DANG!



Kemarin waktu BuBoss nanyain kami satu per satu momen terbaik di 2017, saya jadi diingatkan lagi dengan apa yang terjadi sepanjang tahun. Buat saya tahun ini cukup berat, saya pernah merasa berada di titik terendah, saya pernah begitu putus asa, saya pernah misa setiap hari sambil nangis karena cuma itu satu-satunya cara yang saya tahu saking kalutnya saya.

Alasan mewek: rindu sekali masa-masa ketika mesra banget sama Tuhan, perasaan yang penuh karena dilimpahi cinta Tuhan yang begitu besar. Ketika menyadari keadaan saya sekarang dan menoleh ke pengalaman yang udah lewat, ternyata Tuhan telah membimbing saya berjalan begitu jauh bersama-Nya.

4. Rejeki berlimpah lewat pekerjaan dan teman-teman

Berkaitan dengan pekerjaan, saya senang punya teman-teman baru di kantor yang sekarang ini. Dengan beragam karakter yang kadang bikin nge-gas, tapi kadang ngangenin, saya jadi merasa punya keluarga baru.

Ceritanya, jelang Natal kami main Secret Santa, menjadi Santa Claus bagi teman lain yang namanya sudah dipilih berdasarkan undian. Kami harus membelikan kado dengan budget yang sudah ditentukan untuk si teman tanpa sepengetahuannya.

Buat saya, Secret Santa ini adalah praktek sesungguhnya dari quote Santo Ignatius yang paling saya suka: to give and not to count the cost. Saya benar-benar mikirin hadiah apa yang akan saya berikan untuk teman saya tanpa saya peduli apakah over budget atau tidak. Saya hanya berusaha membayangkan perasaan si teman saat menerima hadiah dari saya nantinya.

Tetapi sekaligus saya tidak mau berharap banyak hadiah apa yang akan saya dapatkan nantinya. Ternyata buat saya justru saat melihat si penerima hadiah tersenyum senang, saya jadi ikutan bahagia.

Kali ini saya jadi Secret Santa untuk Astari, teman kantor yang sedang hamil 7 minggu. Saya menyiapkan pregnancy milestone card + anti stretchmark oil dari Herbilogy. Saya bahagia sekali melihat Astari menyukai hadiah yang saya berikan.

Lalu, bagaimana dengan hadiah yang saya terima? Secret Santa saya bernama Angga, graphic designer di kantor. Angga membelikan saya sepasang pelindung sepatu agar tidak basah saat hujan.
Saya terkejut saat membuka kertas koran yang melapisi hadiah tersebut. Karena benda itu amat saya butuhkan!

Diam-diam Angga memperhatikan bahwa saya sering kehujanan saat datang ke kantor. Meski sudah mengenakan jas hujan, tetapi area celana bagian bawah dan sepatu saya selalu becek basah kuyup. Dengan AC kantor yang dinginnya macem mantan pacar yang sakit hati #eh #naon, saya jadi sering menggigil dan ga enak badan.

Ternyata ketika saya tidak mengharapkan apa-apa saat memberikan kado untuk Astari, justru dibalas dengan kemurahan hati Tuhan lewat Angga. Saya jadi double happy, pertama karena kado saya untuk Astari berguna dan kedua karena saya dapet kado yang berguna buat saya. Saya jadi ga sabar pengen hujan biar bisa nyobain si pelindung sepatu hahaha.

Hal lain lagi yang jadi highlight adalah Christmas Dinner team Indonesia sama BuBoss. Di kantor, cuma saya yang Natalan tapi ketika Christmas Dinner kemarin saya happy karena bisa makan bersama dengan teman-teman berhubung saya home alone.

Alasan mewek: perasaan dicintai oleh Tuhan lewat hadiah Secret Santa dan lewat makan malam bersama teman kantor.

5. Jadi saluran rejeki bagi orang lain

22 Desember, hari terakhir saya ngantor sebelum libur panjang, tiba-tiba saya dikabarin dapet THR Natal. Padahal kalo di kantor-kantor sebelumnya saya selalu dapet THR ngikutin yang mayoritas.

Pas duit lagi menipis, pas ada temen yang kesusahan, eh pas banget THR masuk. Saya jadi makin yakin bahwa saya adalah perpanjangan tangan Tuhan buat bantuin temen saya. Saya juga yakin bahwa sebagian dari THR yang saya dapet, ada rejekinya temen saya di situ.

Alasan mewek: jadi semakin mengamini segala sesuatu indah pada waktu-Nya

6. Tentang berpikiran positif dan kebaikan hati

Sudah berapa banyak orang bilang bahwa hati saya terlalu baik, bahwa pikiran saya terlalu positif, bahwa bisa saja saya jadi dimanfaatkan dan dibohongi orang, bahwa hidup tak selamanya berwarna pink bungabunga balonwarnawarni kupukupu burungberkicau cupcakes unicorn pelangi anginsemilir, bahwa hidup juga ada mendung badai banjir penyakitmematikan pengkhianatan berwarna abu-abu.

Tentu saja berkaitan dengan kisah teman saya yang butuh bantuan. Beberapa teman lain mengatakan bahwa saya begitu mudah percaya. Bisa saja teman saya berbohong. Bisa saja ia hanya memanfaatkan saya.

Apa pun itu, saya memilih untuk tetap berpikir postif, untuk tetap bersikap baik. Saya inget quote ini dari I Wrote This For You:


Alasan mewek: saya nggak pernah sadar soal sikap positif dan kebaikan hati hingga beberapa orang mengingatkan saya akan hal ini. Lagi-lagi saya bersyukur Tuhan telah menjadikan hati saya tetap baik (meski rapuh kayak tahu sutra).

7. Ketemu driver ojek tuna rungu yang baik hati

Setelah bertemu teman saya, saya pulang naik ojek online. Saat driver mengambil order saya, muncul keterangan pada aplikasi bahwa driver saya seorang tuna rungu. Saya pikir ini tidak akan jadi masalah, saya hanya ingin segera sampai rumah karena sudah lelah.

Pak driver kirim chat menanyakan titik penjemputan. Untungnya ada fitur chat yang memudahkan saya berkomunikasi dengan pak driver.

Selama perjalanan saya nggak brenti nangis mikirin nasib temen saya (udah dibilangin kelenjar airmata saya bocor macem diaper bayi 4 jam belom diganti). Nangisnya cuma airmata aja ngalir terus, nggak sampe sesenggukan. Tangan saya sibuk berkali-kali ngelap airmata. Nah, mungkin pas lagi kayak gini si pak driver sempet liat dari spion.

Tiba-tiba, pak driver minggirin motornya dan ngeluarin HP. Lagi-lagi dia ngechat: Ibu baik-baik aja? Tasnya mau ditaruh di depan? BLAAARRR! Airmata makin ngocor, pemirsaaa...

Alasan mewek: Dengan segala keterbatasannya, si pak driver khawatir dengan saya. Tuhan tuh kayak mau bilang, "Tenang aja kamu nggak sendirian."

Selamat Natal ya teman-teman. Semoga hatimu selalu dipenuhi cinta dan kedamaian.

Wednesday, June 14, 2017

Gusti Allah Mahakeren

Saya bingung mau mulai bercerita dari mana. Rasanya masih sulit percaya. Rasanya masih kayak mimpi. Saya masih merinding dan perut saya bergejolak tiap kali baca email.



Siang ini di inbox gmail saya muncul sebuah email dengan subject: OFFERING LETTER. Mata saya terbelalak tak percaya. Akhirnya.... setelah berbulan-bulan jadi pengangguran, setelah merasa putus asa ga dapet-dapet kerjaan, setelah ngambil kerja serabutan (nulis artikel, nerjemahin, jadi fasilitator retret, dll dsb. PALUGADA alias apa lu minta, gue ada) dengan bayaran yang tersendat, setelah sering deg-degan hidup ke depannya bakal kayak gimana, email ini bagaikan segelas air putih dingin pake es batu di bulan puasa saat adzan maghrib berkumandang.


Desember 2016, sebelum saya berangkat retret, saya sempat mengirimkan lamaran ke sebuah perusahaan media. Waktu itu saya melamar sebagai penulis. Setelah retret selesai di bulan Januari, email lamaran saya berbalas:

"Terima kasih sudah tertarik melamar ke perusahaan kami. Sayang sekali posisi yang kamu lamar baru saja terisi. Namun, kami tertarik dengan CV kamu. Jika suatu saat nanti kami membuka lowongan Social Media Manager, kami akan menghubungi kamu. Apakah kamu bersedia dijadikan salah satu kandidat?"

Ah, sayang sekali. Posisi yang saya incar sudah terisi. Meski sedikit kecewa, saya katakan bahwa saya bersedia menjadi kandidat jika ada lowongan lain.


Setelah itu, entah sudah berapa banyak lamaran yang saya kirim ke berbagai tempat. Ada yang memanggil untuk interview, ada yang bahkan lanjut hingga job test, ada yang sudah sampai nego gaji, namun semua berujung pada hal yang sama: TIDAK ADA LANJUTANNYA.


Kalau kalian pernah baca tulisan saya empat bulan lalu, saya benar-benar merasa terpuruk ketika itu. Merasa tidak kompeten, tidak layak mendapat pekerjaan, Ditambah tuntutan dari keluarga untuk segera mencari pekerjaan baru. Saya putus asa.


Bahkan ketika pengakuan dosa saat masa praPaskah, saya sempat mengatakan kepada Romo Christiono Puspo bahwa saya meragukan Tuhan beneran ada bersama saya dan tak pernah meninggalkan saya. Sulit bagi saya untuk percaya ketika itu kalau Tuhan benar-benar mencintai saya. Meski berulang kali saya mengatakan pada diri saya sendiri (atau menuliskannya di blog atau menceritakannya pada sahabat saya) bahwa segala sesuatu akan indah pada waktuNya, tapi hati saya masih terus meragukan hal itu.


Beberapa yang mengikuti saya di media sosial mungkin melihat sepertinya kehidupan saya bahagia, jalan-jalan terus, makan-makan terus, posting My Monday is Better Than Yours, bahkan pergi dua minggu bersama-sama dengan seorang teman dari Romania ke beberapa kota di Indonesia. Saya pun rasanya masih sulit percaya saya bisa melakukan itu semua. Pergi jalan-jalan itu benar-benar rahmat tersendiri. Ya bayangin aja, lagi pengangguran tapi bisa jalan-jalan, kalau bukan karena kebaikan Tuhan, lalu dari mana lagi? Di tengah-tengah rasa putus asa dan meragukan Tuhan, ternyata justru saya mendapatkan banyak hadiah manis dariNya.



Senin minggu lalu sebuah email masuk. Panggilan interview. Saya coba mengingat-ingat lamaran pekerjaan terakhir yang saya kirim. Menyerah. Akhirnya saya googling nama perusahaannya. Dan ternyata ini adalah perusahaan media yang saya apply di Desember lalu. Selasa saya datang ke kantor untuk interview. Rabu mengerjakan job test. Kamis, HRD meminta scan KTP dan Paspor saya. Lalu, jreng jreng jreng datanglah offering letter hari ini.


Yang bikin saya nggak habis pikir adalah Gusti Allah emang Mahakeren. Desember saya melamar sebagai penulis. Tapi nggak dikasih. Malah saya disuruh jalan-jalan dulu bersama si teman Romania. Lalu sekarang, saya malah dikasih posisi yang lebih baik: jadi editor!!!


Saya baca emailnya berkali-kali. Saya tepuk-tepuk pipi saya. Beneran deh, otak manusia saya masih belum bisa memahami rencana Dia yang begitu besar. Seperti yang sahabat saya bilang: We need to learn to have a childlike trust in Him. Susah emang, tapi namanya juga belajar, wajar kalau masih suka salah-salah.

Sunday, February 19, 2017

Tambah Usia

Lewat beberapa jam dari tanggal 18 Februari, hari ulang tahun saya. Namun, ternyata masih menyisakan kehangatan dan kebahagian yang membuat saya tak kunjung memejamkan mata.


Saya selalu menyukai ulang tahun. Dari kecil, ulang tahun saya selalu dirayakan. Tiup lilin, potong kue, mengundang keluarga dan tetangga, dapat banyak hadiah. Saya selalu menanti-nanti datangnya tanggal 18 Februari. Bahkan sejak awal Februari, saya mulai senyum-senyum senang.


dapet 'kue' sushi dari sebuah restoran sushi ternama



Menunggu-nunggu ulang tahun bukan berarti saya ikhlas menerima pertambahan usia. Buat saya, hari lahir perlu dirayakan setiap tahun. Tapi kalau mulai ada yang membahas soal tambah usia, tambah tua, berkurang umurnya, saya langsung tutup kuping. Saya tidak ingin lagi bertambah usia sejak ulang tahun ke 23. Di tahun-tahun berikutnya, saya selalu mengatakan bahwa usia saya dua puluh tiga. Parahnya, saya jadi sering salah menulis di formulir pendaftaran. Saya refleks menorehkan angka 23 di kolom usia. Forever twenty three!


Galau-galau mengenai pertambahan usia ini makin terasa menakutkan ketika tahun lalu saya menginjak usia 29. Rasa-rasanya saya tidak siap untuk memasuki usia kepala 3. Saya sering mendengar cerita bahwa banyak perubahan-perubahan hidup terjadi ketika usia 30, baik itu soal pekerjaan, pilihan hidup, bahkan status seseorang. Ah, saya makin tidak siap menghadapinya.


Sepanjang tahun 2016 pun akhirnya diisi dengan bermacam-macam pertanyaan tentang hidup: apa sebenarnya tujuan hidup saya? Kalau saya terus menerus tidak bahagia dengan pekerjaan yang saya lakukan, sebenarnya pekerjaan apa yang sesuai? Kebahagiaan macam apa yang sebenarnya saya cari? Bagaimana bila ternyata pilihan hidup yang saya ambil selama ini salah?


Saya terus menerus membawa pertanyaan-pertanyaan itu. Galau tak berkesudahan. Bingung tanpa arah tujuan. Bertanya tapi tak kunjung dapat jawaban. Hingga suatu hari saya memberanikan diri menambahkan satu pertanyaan lagi. Kali ini pertanyaannya bukan melulu soal saya. Kali ini saya memberanikan diri bertanya: Tuhan, apa yang Engkau inginkan dari hidupku?


Njir! Serem yak. Abis nanya gitu saya langsung mewek. Takut. Nggak siap denger jawaban Tuhan. Terus mau diralat kok kayaknya nggak bisa. Tuhan udah terlanjur denger pertanyaan saya (mungkin abis itu Tuhan jawil-jawil dagu saya sambil bilang: bener nih mau denger jawabanKu? Yakin udah siap? Dan saya pun melambai-lambaikan tangan ke kamera).


Saya nggak mau kegalauan ini berlangsung terus menerus. Saya harus berbuat sesuatu, mengambil langkah konkret. Saya ingin denger Tuhan akan berbicara apa ke saya. Supaya bisa dengerin jawaban Tuhan, saya harus menyediakan waktu khusus denganNya. Maka, di penghujung tahun 2016, saya melakukan retret pribadi selama delapan hari. (Pengen cerita detail soal proses retret dan pengalaman yang saya dapatkan, tapi lain waktu aja ya. Mulai kriyep-kriyep ngantuk pas ngetik nih. Hahahahaha).


Intinya, ketika retret saya menyadari bahwa Tuhan sungguh mencintai saya sejak awal, bagaimana pun nakalnya saya, bagaimana pun parahnya luka yang saya punya, Tuhan tetap mencintai saya. Kalau kata salah seorang sahabat saya, Moncil, cinta Tuhan tuh luber-luber dan sering lupa takaran. Persis! Saya bahkan sering merasa bahwa saya tuh siapa sih, kok Tuhan bisa mencintai saya sampe segininya? Saya dikasih banyaaaaaaaakkkkk banget rahmat: kesehatan, orang tua dan keluarga, teman-teman, pekerjaan, rejeki, dan masih banyak lagi nggak keitung saking banyaknya.


Pasca retret, saya jadi lebih bisa menerima diri saya, menerima semua hal yang terjadi dalam hidup beserta pahit manisnya, galau-galaunya, bingung-bingungnya. Termasuk menerima bahwa saya akan segera masuk usia 30 hahahahahaha.


Terus, jawabanNya apa nih untuk pertanyaan: Tuhan apa yang Engkau inginkan dari hidupku? Weits, rahasia *senyum kalem*. Yang pasti Tuhan mau saya lebih banyak mensyukuri cinta dan rahmat yang sudah Dia berikan buat saya. Dan kemudian membagikan cinta dan rahmat tersebut kepada sebanyak mungkin orang di sekitar saya.


Hari ini (eh kemarin sih tepatnya, kan 18 Februarinya udah lewat beberapa jam), ketika saya ulang tahun, saya lagi-lagi merasakan limpahan cinta Tuhan yang luber-luber lewat keluarga dan teman-teman yang selalu menemani, mendukung, dan mendoakan saya *duh mulai mewek ngetiknya* *kelenjar airmata saya emang lemah*

diberkati Romo Mario, SJ. Meski penampakannya kayak anak SD baru pulang les, tapi beliau udah sah ngasih berkat lho!

Ketika tadi ada seorang teman bertanya: Kamu tahun ini minta didoain apa Nggun? Saya hanya tersenyum. Saya tidak tahu harus minta apa lagi ketika saya sudah diberi banyak cinta. Maka, kalau boleh, saya ingin meminta agar keluarga dan teman-teman saya bisa merasakan cinta Tuhan sebesar apa yang saya rasakan.


- Giasinta Angguni Pranandhita, yang sekarang dengan ikhlas bilang: umur saya tiga puluh tahun (meski muka masih kayak dua tiga #teteup #olesoleskrimantiaging)

foto diambil tanggal 18 Februari 2017, umur tiga puluh, muka dua tiga. Masih kinyis-kinyis kan?

Monday, February 06, 2017

Tepat pada WaktuNya

Hari ini perasaan saya nggak karuan. Antara senang (karena akhir pekan kemarin semua rencana bisa berjalan, bisa ketemu teman-teman yang udah lama nggak ketemu, dan bisa ketawa-ketawa bareng), lelah (sepanjang minggu kemarin saya mendedikasikan waktu saya untuk menemui anggota circle satu per satu dan mendengarkan semua cerita mereka, mungkin energi saya jadi habis terserap), dan ternyata yang paling dominan adalah rasa sedih.


Iya, sedih karena tak kunjung mendapat pekerjaan yang sesuai dengan hati saya. Kemarin ada tawaran pekerjaan, namun hati saya masih belum sreg. Terpaksa saya tolak. Hari ini rasa sedih mulai muncul lagi. Saya sedih kalau nggak bisa berbuat apa-apa ketika ibu bilang beras habis. Saya sedih ketika kemarin seorang teman membayari saya makan meski ia melakukannya dengan ikhlas karena tahu saya tidak punya uang. Saya sedih ketika sudah berminggu-minggu belum ada kabar dari sekian banyak lamaran pekerjaan yang saya kirim.




Kesedihan hari ini membuat saya sesak. Saya pun meniatkan diri untuk mampir ke Katedral sepulang kerja (FYI, saya sekarang jadi volunteer, membantu Romo Is di Sahabat Insan. Tidak terikat jam kerja, tidak terikat kontrak. Saya boleh terus membantu sampai saya mendapat pekerjaan).


Biasanya jam lima sore saya sudah bisa pulang. Misa harian dimulai pukul enam. Jalan kaki dari kantor ke Katedral sekitar 20 menit. Wah, pas nih.


Jam empat lewat, adik saya menawari saya untuk pulang bersama dengannya dan suami. "Jam setengah enam ketemu di kantor Didit ya Mbak." Wah, kok tawaran ini terasa lebih menarik. Saya jadi bisa menghemat ongkos pulang.


Ah tapi saya sudah meniatkan diri untuk misa dulu. "Duluan aja, Cha. Aku nanti pulang sendiri aja. Makasih ya." Saya balas pesannya dengan segera. Meski demikian, saya sempat khawatir bagaimana ya nanti caranya pulang ke rumah. Saldo Go-Pay saya sudah habis. Pun nggak mungkin naik taksi karena tight money policy. Sudahlah, pikirkan saja nanti, yang penting misa dulu.



Dua puluh menit berjalan kaki dari Pasar Baru menuju Katedral, saya hampir tidak bisa menahan airmata. Kesedihan ini begitu mengganggu. Saya mempercepat langkah. Ketika akhirnya tiba di Katedral, dengan tergesa-gesa saya masuk dan mencari tempat duduk. Secara random, saya memilih bangku sebelah kiri agak ke belakang.


Saya meletakkan tas, berlutut, dan menangis sejadi-jadinya. Sedih. Lelah. Takut. Bimbang. Semua hal yang mengganjal saya keluarkan tanpa malu-malu bersama airmata yang mengalir deras.


Misa dimulai. Bacaan hari ini tentang Allah yang menciptakan bumi dan segala isinya. Pikiran saya pun melayang mengingat saat-saat saya retret di Girisonta bulan lalu. Saya masih ingat bahan doa di hari kedua retret diambil dari kitab Kejadian tentang penciptaan. Ketika itu saya menyadari betapa Allah mencintai manusia karena Allah menciptakan dulu bumi dan segala isinya untuk manusia. Dan semua yang Allah ciptakan baik adanya. Saya ingat-ingat lagi bagaimana perasaan saya saat retret ketika membaca kisah penciptaan. Kedipan pertama dari Tuhan.


Lanjut ke bacaan Injil yang intinya supaya manusia jangan takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh tapi kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Manusia takutnya sama Tuhan aja, karena Dia dapat membunuh tubuh dan membuang jiwa ke neraka. Terus bagian lain dari Injil yang saya ingat adalah tidak seorang pun dilupakan oleh Allah, bahkan rambut kita pun terhitung semuanya. Karena itu jangan khawatir, karena kamu lebih berharga dari burung pipit. Kedipan kedua dari Tuhan.


Homilinya tentu saja nyambung dengan bacaan. Kebetulan hari ini dirayakan sebagai peringatan Santo Paulus Miki, dkk. Paulus Miki adalah martir Jesuit dari Jepang. Waktu itu penguasa Jepang memerintahkan semua misionaris yang berkarya di Jepang harus meninggalkan negeri itu. Kalau nggak nurut bakal dibunuh. Paulus Miki dianiaya dengan kejam kemudian disalib. Bahkan di saat-saat terakhir, Paulus Miki masih terus berkhotbah sambil tergantung di salib untuk membesarkan hati kawan-kawannya. Ck! Keren banget lah Santo Paulus Miki ini. Udah disiksa, disalib, masih sempet-sempetnya khotbah. Lah saya baru jadi pengangguran beberapa bulan aja udah mewek-mewek nggak karuan. Kedipan ketiga dari Tuhan.


Pas persembahan, lagunya ternyata Ambillah Tuhan. Liriknya begini:
Ambillah Tuhan, kemerdekaanku
dan kehendak, serta pikiranku
Trimalah Tuhan, yang ada padaku
Gunakanlah seturut hasratMu
Hanya rahmat dan kasih dariMu
yang kumohon menjadi hartaku

Dua baris terakhir adalah salah satu hal yang sering saya doain ketika retret kemarin. Rahmat dan kasih Tuhan, itu saja cukup bagiku. Padahal Tuhan sudah memberikan rahmatNya berlimpah ruah kepada saya. Lha terus kenapa sekarang jadi malah sedih dan khawatir sih? Kedipan keempat dari Tuhan.



Bisa dipastikan, saya nangis terus sepanjang misa. Saya sudah tidak peduli kalau orang-orang di sekitar saya melihat airmata saya.


Setelah misa selesai, saya masih belum bisa menenangkan diri. Airmata terus menerus mengalir. Tapi sedihnya sudah berkurang, karena saya sudah curhat sama Tuhan yang dijawab langsung olehNya. Saya mengelap airmata dengan tissue, kemudian melangkah ke pintu.


Tiba-tiba saya berpapasan dengan Yudi, teman SD yang sudah belasan tahun tidak bertemu. Kami bertukar kabar sejenak. Yudi bekerja di Kementrian Luar Negeri. Ia sering misa harian di Katedral. Namun, Jumat besok ia sudah harus berangkat tugas ke Argentina. Saya tidak terpikir untuk bertukar nomer kontak. Saya malu karena wajah saya sembab habis menangis, dan tidak berharap berpapasan dengan orang yang dikenal.


Di depan goa Maria, ternyata saya lagi-lagi bertemu dengan orang yang dikenal: Kak Arthur! Kakak idola yang satu ini menawari saya pulang bareng dengannya.



Ya ampun, Tuhan tuh beneran baik banget sama saya. Setelah memberi pesan tepat saat saya membutuhkannya, Dia juga mengirimkan tebengan yang tepat untuk saya pulang ke rumah. Hehehe. Semoga Tuhan juga akan memberikan pekerjaan untuk saya di saat yang tepat. Tepat pada waktuNya, bukan waktu saya.

Thursday, December 29, 2016

Bersabarlah, Gone!

Dua hari jelang keberangkatan saya untuk sebuah perjalanan menemukan kembali diri saya. Saya sebut begitu, karena sudah sejak lama saya merasa ada bagian-bagian yang hilang dari diri saya. Sudah sejak lama saya merasa bahwa ini bukan Gone yang sesungguhnya yang sedang menjalani kehidupan. Maka, saya membutuhkan waktu luang yang amat cukup agar saya punya kesempatan menemukan lagi diri saya yang entah tercecer di mana.


Dua hari jelang keberangkatan dan Ibu tiba-tiba membombardir saya dengan beragam pertanyaan:
Kamu jadi ke Semarang? Jadi
Berangkat kapan? Dua hari lagi, tapi aku ke Jogja dulu
Berapa lama kamu di sana? Sekitar 8 - 9 hari di Semarang
Lalu, setelah itu ke mana? Ya, kembali ke Jogja
Berapa biaya yang kamu butuhkan untuk 9 hari di Semarang? Kurang lebih xxx
Memangnya kamu punya uang? Ada
Nanti di Jogja berapa lama? Belum tahu. Sekalian mau datang ke acara teman tanggal 15 Januari
Pulang ke Jakarta kapan? Ya, tunggu setelah tanggal 15 Januari
Sudah beli tiket pulang? Belum
Terus kapan beli tiket pulang? Ya tunggu ada rejekinya lagi
Kamu di Jogja lama banget, biaya hidupnya gimana? Gampanglah, pasti nanti ada rejekinya
Tinggal di mana? Gampanglah, bisa di tempat Vic
Kamu nih ngerepotin Vic terus deh.
Ibu nggak bisa ngongkosin kamu, ga bisa ngirimin kamu uang kalau nanti kamu kehabisan uang.
Blablablablabla
Blablablabla
Blablabla
Blabla
Blah!


Saya bisa menangkap kekhawatiran dalam setiap pertanyaan Ibu. Ya, ibu mana sih yang tidak khawatir melihat anaknya akan pergi ke kota lain hanya dengan bekal yang amat sedikit, dengan uang tabungan yang kian menipis. Ibu mana yang tidak sedih melihat anaknya sekarang bekerja serabutan - menjadi penulis lepasan, terima proyek menulis apa pun, yang terkadang pembayarannya pun tersendat.


Sekuat tenaga, saya menahan airmata agar tidak jatuh di depan Ibu. Gengsi!


Di tengah perjuangan mencegah airmata saya menetes, saya teringat percakapan saya dengan Romo Mario beberapa hari yang lalu.
"Orang tuamu pasti memiliki banyak harapan padamu, meski hal itu tidak mereka katakan. Cara mereka mengungkapkannya mungkin dengan ngomel, dengan nyuruh-nyuruh kamu segera cari kerja, dengan menyodorkan berbagai macam iklan lowongan pekerjaan, dengan macam-macam. Tak jarang kamu merasa kesal dan terjadilah konflik dengan mereka. Maka, sekarang mulailah mendoakan orang tuamu, mohon rahmat dari Tuhan agar orang tuamu mau bersabar menghadapimu yang sedang dalam kondisi ini, dan tetap menerima apa pun keadaanmu saat ini."


Kondisi apa? Ya, kondisi jobless, jomblo, dan ngenes. Nyahahahaha. Kondisi yang membuat orang mungkin jadi kasian, yang membuat orang tua saya jadi gemas, yang membuat saya pun terkadang jadi sedih dan minder.


Tapi, highlight dari percakapan saya dengan romo tersebut adalah pada bagian ini:
"Lebih terutama lagi, kamu juga perlu mohon rahmat untukmu sendiri. Rahmat kesabaran untuk menerima dirimu, kesabaran untuk memahami bahwa saat ini kamu sedang di persimpangan."


AH! Ini yang ternyata saya lupakan. Rasa sedih dan minder tadi muncul karena ketidaksabaran saya dalam proses menemukan diri saya, karena ketidaksabaran saya saat berdiri di persimpangan, bawaannya ingin cepat-cepat memilih jalan mana yang segera membawa saya menemukan diri saya lagi.


Maka, saya mau bilang ke diri saya sendiri: hey, Gone! Bersabarlah sebentar. Nikmati saja perjalananmu menemukan bagian dirimu. Kalau memang harus menunggu agak lama di persimpangan, sabar saja dan keluarkan kecrekan siapa tahu dapet banyak recehan



foto diambil tanggal 31 Desember 2013

Saturday, December 24, 2016

Ngaku Dosa

Gila-gilaan ini blog udah setahun gue tinggal. Postingan terakhir beneran setahun yang lalu. Duh, maafkan saya ya pembaca setia *errr... emangnya ada?*


2016 ini sungguh keterlaluan serunya. Saking serunya saya jadi ga punya waktu buat nulis-nulis. Nah, mumpung 2016-nya belom abis, gpp deh ya nulis satu cerita.


Kali ini mau meracau tentang pengakuan dosa *religius amat sih Gon*
Meski saya udah Katolik dari bayi, dan udah belajar tentang sakramen-sakramen dalam Katolik sejak SD, saya bukan tipe yang rajin untuk melakukan pengakuan dosa. Kalau di SD & SMP saya ngaku dosa setahun 2x (biasanya deket Natal sama Paskah) karena kebetulan difasilitasi aja sih sama pihak sekolahan. Mayaaannn.. itung-itung bisa kabur bentar dari kelas *motivasi macam apaaaa ahahaha*


Di SMA, meski saya bersekolah di sekolah Katolik, tidak ada fasilitas pengakuan dosa. Biasanya kalau mau deket Natal atau Paskah, murid-murid yang rajin beribadah dan suka menolong pergi ke Katedral untuk ngaku dosa sepulang sekolah. Saya? Nggak deh. Soalnya pengakuan dosanya bukan pas jam pelajaran sih. Jadi gak seru hehehehe. Tiga tahun di SMA saya lalui dengan hanya satu kali pengakuan dosa, pas retret di kelas 3. Itu pun ngaku dosa semata-mata karena ya ga enak aja, masa udah difasilitasi lalu tetep ga ngaku dosa. Sama seperti pengakuan dosa saya yang sebelum-sebelumnya waktu di SD dan di SMP, momen ngaku dosa pas retret kelas 3 ini juga tidak menimbulkan kesan apa-apa.


Di kuliah, karena masuk universitas negeri, makin ga pernah lagi saya melakukan pengakuan dosa. Meski saya aktif di komunitas mahasiswa Katolik ketika itu, meski difasilitasi oleh romo pendamping mahasiswa, saya tidak pernah satu kali pun melakukannya. Alasannya: ah, malu! Kan sering ketemu sama romonya, nanti kalo dia ingat dosa saya gimana?


Tahun 2010 setelah lulus kuliah, saya yang ketika itu masih berstatus job seeker, coba-coba ikutan sebuah program dari KAJ. Namanya Kampus Orang Muda Jakarta. Sebelum memulai program KOMJak ini, ada retret 4 hari bagi para peserta. Di hari ketiga retret romo pendamping KOMJak ketika itu membuka layanan pengakuan dosa. Romonya bilang gini kalau saya ga salah ingat: "Nggak perlu buat daftar dosa panjang-panjang, sekarang kalian masing-masing renungkan dan temukan apa yang menjadi akar dari dosa-dosa yang sering kalian perbuat. Cukup 1 - 2 kata saja. Kalau sudah siap, saya tunggu di dalam."


Wooohhh... menarik sekali nih cara ngaku dosanya! Baiklah saya pun dengan senang hati melakukan pengakuan dosa. Di dalam ruang pengakuan, saya cuma sebentar. Paling cuma 5 menit. Karena beneran saya cuma nyebutin satu kata aja yang menurut saya ketika itu menjadi akar dari dosa-dosa saya. Enak nih ngaku dosa macam ini hahahahahahaha.



Waktu berlalu. Ratusan purnama terlewati. Saya nggak pernah lagi ngaku dosa sejak itu. Hingga suatu hari, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti MaGiS + WYD 2016 di Polandia *ehem, cerita lengkap tentang pengalaman di Poland sebenernya udah ditulis di blog lain, tapi masih dicicil dikit-dikit. Harap bersabar ya*


Polandia nih negara yang Katolik banget. Penduduknya mayoritas Katolik. Gerejanya ada banyak banget dan bagus-bagus. Bahkan di satu gang bisa ada 3 gereja Katolik bersebelahan. Tiap misa selalu dipenuhi umat. Namun, ada hal menarik yang saya perhatikan, Meski banyak orang datang mengikuti misa, tetapi tidak semua maju menerima komuni. Saya cuma bingung-bingung doang dalam hati: ini apa mereka belum pada dibaptis dan terima sakramen Mahakudus ya? Kok pada nggak ngambil komuni. Mau nanya langsung rasanya ga enak.Ya masa nanya langsung pas misa. Takut dikeplak. Mau nanya abis misa, saya udah lupa. Baru inget lagi pas misa. Gitu aja terus


Suatu hari, saya ngobrol sama seorang teman panitia MaGis. Sebut saja namanya Mikolaj (padahal emang itu namanya, cara bacanya me - co - why alias mikoway). Saya tanya kenapa nggak setiap orang maju terima komuni sih. Lalu Mikolaj bilang mereka yang ga komuni biasanya merasa ga pantes menyambut tubuh Yesus karena belum ngaku dosa. Di Poland, mereka punya kebiasaan ngaku dosa dulu baru layak terima komuni. Jadi, kalau mereka dateng misa tapi belum ngaku dosa, biasanya mereka gamau maju untuk komuni. Dan rata-rata mereka ngaku dosa seminggu atau dua minggu sekali. Wow! Saya geleng-geleng takjub. Saya jadi malu mengakui ke Mikolaj bahwa saya udah sekitar uhuk enam tahun ga ngaku dosa *tutupin muka pake bantal*


Pantesan ya saya sering banget liat banyak Om-om ber-collar (collar ya, bukan kolor. clerical collar, kerah putih yang biasa dipake rohaniwan: uskup, romo, bruder, bahkan para seminaris) yang duduk di taman sambil dengerin orang curhat. Saya baru sadar kalo itu romo yang lagi melayani pengakuan dosa. Warbiyasak ya!


Terus kamu sendiri gimana Gon? 


Kebetulan pas di kota Czestochowa, saya berkesempatan mengunjungi biara Jasna Gora bersama-sama dengan peserta MaGis lainnya. Lalu, di Jasna Gora ada ibadat rekonsiliasi dan pengakuan dosa. Karena peserta MaGis sendiri ada 2200 orang, ibadatnya dilakukan di lapangan terbuka sore-sore gitu. Romo yang mimpin ibadat ada di atas semacam balkon gitu deh. Nih saya comotin foto dari flickr nya MaGis 2016 biar ada gambaran.

Peserta MaGis ngikutin ibadah rekonsiliasi di lapangan biara Jasna Gora
source: flickr MaGis Poland

Romo Pawel mimpin ibadat rekonsiliasi dari atas balkon biara
source: flickr MaGis Poland

Nah para pesertanya di bawah tuh, keliatan ga?
source: flickr MaGis Poland



Para romo yang ada di acara MaGis dikerahkan untuk memberi sakramen pengakuan dosa. Romo-romo dengan jubah dan stola nyebar di pinggir-pinggir lapangan. Mereka bawa tulisan yang isinya bisa melayani pengakuan dalam bahasa apa saja.

Berarti romonya melayani dalam bahasa Spanyol dan Inggris
source: flickr MaGis Poland

Romo di sebelah kiri itu lagi nunggu 'pasien'
source: flickr MaGis Poland

beneran banyaaaakkk banget romo yang memberi sakramen pengakuan dosa. iyalah, peserta MaGis aja ada 2200 orang
source: flickr MaGis Poland



Saya ketika itu masih ragu, mau ngaku dosa apa nggak ya. Saya pun berjalan mengelilingi lapangan bersama seorang frater ganteng dari Brasil. Di antara 2200 orang peserta MaGis, tiba-tiba saya melihat sosok yang saya kenal. Temen saya si Mikolaj lagi ngaku dosa. Pas banget saya ngeliat moment si romo memberi wejangan ke Mikolaj dan dia ngangguk-ngangguk. Mulai timbul sedikit keyakinan dan keberanian dalam diri saya.


Eh, tapi mau ngaku dosa pake bahasa apa ya. Jangankan pake bahasa Inggris, ngaku dosa pake bahasa Indonesia aja saya udah lama ga melakukan. Saya nanya ke si frater ganteng yang dari tadi jalan di sebelah saya:
Gone: "Kamu mau ngaku dosa nggak?"
Frater: "Hm, not sure. Saya masih berusaha mengumpulkan keberanian untuk melamar kamu nih. Kamu gimana?"
Gone: "Sama, saya juga. Eh tapi ya, saya kayaknya mau ngaku dosa pake bahasa Indonesia aja deh."
Frater: "Memangnya ada romo dari Indonesia?"
G: "Ada satu romo Indonesia yang tugas di Macau dateng juga ke MaGis. Kalo saya berhasil menemukan dia di antara ribuan orang ini, saya ngaku dosa deh."


Jalan sepuluh langkah dan jreeennnggg... di sanalah si romo yang mengerti bahasa Indonesia lagi duduk. Makanya Gon, jangan suka mencobai Tuhan. Udah ga pernah ngaku dosa, malah ngerjain Tuhan. Muncul kan tuh si romonya. Hahahahaha


Namanya Romo Vincent. Pertama kali kenal pas di Jogja acara Magis Asia Pasific gathering. Romo Vincent mendampingi teman-teman MaGis dari Macau. Beliau asli suroboyo. Ngomongnya masih ada logat medok-medok sedikit. Setelah acara di Jogja, beberapa kali saya pernah chat dengan beliau.


Saya mondar-mandir di belakang romo Vincent. Antara yakin dan nggak. Romo-romo di kiri dan kanannya Romo Vincent udah mulai terima pasien. Romo Vincent kosong, belum ada yang antri. Bahkan mungkin karena nggak ada yang nyamperin setelah sekian lama *eh ini dalam konteks pengakuan dosa, bukan yang lain*, Romo Vincent pun ngelipet lagi stolanya. Lhaaaa.... dia tutup lapak. Ahahahahaha.


Di tengah kebingungan itu, si frater ganteng dari Brasil nyamperin saya lagi dan bilang: "Kalau kamu belum siap untuk mencintai saya, yuk saya temani ikut ibadat rekonsiliasi dulu. Sembari kamu merenungkan dosa-dosa dan mengumpulkan keberanian." Saya pun ngeloyor pergi (sorry Mo, saya pilih yang lebih muda dan lebih ganteng nyahahahahaha).


Saat ibadat rekonsiliasi saya merenung. Ini kesempatan yang bagus sebenernya buat saya ngaku dosa. Tuhan sendiri sudah mengundang saya. Dan ini adalah sebuah rahmat yang harus saya syukuri. Bahwa saya begitu dicintai oleh Tuhan meski saya berdosa. Saya diberi kesempatan untuk mengakui dosa-dosa saya dan diampuni olehNya. Apalagi ketika itu masih tahun kerahiman. Ada rasa hangat menjalar di hati saya ketika membayangkan bahwa Tuhan yang Maharahim mau mendengarkan pengakuan dosa saya, mengampuni saya dan tetap mencintai saya apa adanya.


Maka, saya pun dengan penuh sukacita menuju ke tempat romo Vincent berada. Ternyata, sudah ada antrian teman-teman MaGis Yogya yang juga ingin mengaku dosa. Saya giliran ketiga. Saya menunggu tak jauh dari tempat Romo Vincent berada, sambil berpikir...

...


...


... eh kalo ngaku dosa itu mesti ngapain dulu sih pertamanya?
 

(c)2009 racauan si tukang cerita. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger